December 10th, 2011 | Author: bhayu

Komodo telah ditetapkan sebagai salah satu dari 7 keajaiban dunia yang baru. Seperti kita ketahui, terjadi kontroversi yang cukup panas mengenai permasalahan ini. Yayasan penyelenggaranya yang bermarkas di Swiss disebut kurang dapat dipercaya. Bahkan polemik ini melibatkan para petinggi negara termasuk para menteri  hingga presiden. Tak heran, karena setelah Kementerian Pariwisata dan Kebudayaan (sewaktu belum berganti nama setelah reshuffle menjadi Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif) mengundurkan diri sebagai sponsor yang mengajukan, pihak swasta mengambil alih. Dipimpin oleh Emmy Hafild, tim ini mengkampanyekan pemenangan komodo dengan gencar.

Karena voting melalui internet dikuatirkan kurang optimal, tim ini menggandeng operator telepon seluler dan meminta partisipasi masyarakat melalui SMS. Selain itu digandeng juga “Duta Komodo” yaitu Drs. H.M. Jusuf Kalla, mantan Wakil Presiden R.I. Meski waktu itu SMS premium menjadi masalah dan akhirnya dihentikan oleh BRTI (Badan Regulasi Transportasi Indonesia), SMS untuk mendukung pemenangan komodo terus berlanjut. Ini setelah J.K. menjamin bahwa biayanya hanya Rp 1,- per SMS.

Akhirnya setelah kisruh di dalam negeri, komodo berhasil menjadi salah satu pemenang dan dinobatkan sebagai “The New 7 Wonders of the World”. Nah, masalahnya, setelah menang, apa setelahnya? Karena itu, pada tanggal 7 Desember 2011 Universitas Paramadina menggelar seminar bertajuk “Komodo, The Seven Wonder: What Next?” Bukan kebetulan karena J.K. juga menjadi Ketua Dewan Pembina Yayasan Paramadina. Dalam seminar yang digelar di kampus utamanya di jalan Gatot Subroto-Jakarta, J.K. tampil sebagai keynote speaker.

Seperti biasa, dengan gayanya yang santai, J.K. menguraikan bagaimana ia ditodong oleh Emmy Hafild untuk menjadi “Duta Besar Komodo”. “Emmy hebat, karena bisa memilih dan mengangkat dubes cuma dalam satu jam,” guraunya. “Tapi saya cuma mau bertugas satu bulan saja. Karena itu mungkin saya dubes dengan masa tugas tersingkat,” canda J.K. lagi. Di samping hal ringan tersebut, J.K. menguraikan bahwa memperjuangkan komodo agar dikenal di dunia bukan masalah pelestarian hewan langka itu saja. Tapi terutama juga dalam kerangka memajukan pariwisata dan pada akhirnya menaikkan taraf hidup rakyat di Nusa Tenggara Timur (N.T.T.).

Hal inilah yang membuat J.K. tergerak untuk membantu kampanye pemenangan komodo sebagai salah satu dari “7 Keajaiban Dunia Baru”. Dan memang keterlibatan J.K. terbukti mampu mengangkat pemberitaan dan membuat masyarakat tergerak untuk memilih. “Belum pernah rakyat Indonesia bisa sebersatu ini dalam mendukung sesuatu hal bersama-sama,” demikian tegas J.K.

Emmy Hafild yang tampil sebagai salah satu pembicara dalam seminar ini lebih menerangkan mengenai proses kampanye yang telah dilalui. Selain itu, ia juga menerangkan prospek ke depan sebagai efek dari kemenangan ini. Menurutnya, saat ini tingkat kunjungan wisatawan asing ke Pulau Komodo sudah meningkat dua kali lipat sejak keterlibatan komodo dalam kontes ini.

Selain Emmy, hadir sebagai pembicara adalah Y.W. Junardy, President – Indonesia Global Compact Network (IGCN) sekaligus President Commissioner – PT Rajawali Corpora. Ia membawakan materi presentasi berjudul “Market-ing Komodo (Attracting Traders-Tourists-Investors to Support NTT Development)”. Dalam presentasinya ia antara lain mengetengahkan perbandingan dengan tujuan pariwisata lain, baik kota, tujuan wisata, maupun negara. Pariwisata bukan sekedar urusan tujuan wisatanya. Di dalamnya juga ada masalah infrastruktur, atraksi dan manusianya. Indonesia seperti kita tahu jauh tertinggal dibandingkan negara-negara lain. Di Asia Tenggara saja kita kalah dibandingkan Malaysia, Singapura dan Thailand. Padahal membangkitkan pariwisata menurutnya tidak sekedar membawa turis saja, tapi juga perdagangan dan investasi. Semua hal ini pada akhirnya akan menambah devisa negara dan meningkatkan kesejahteraan rakyat.

Di sesi terakhir, Wakil Rektor Universitas Paramadina Wijayanto mengetengahkan presentasi berjudul “Komodonomics: Komodo for People’s Prosperity”. Dalam presentasinya, Wijayanto mengemukakan banyak data statistik terutama mengenai perekonomian dalam kaitan dengan pariwisata. Saat ini menurut data provinsi NTT tempat komodo berada merupakan salah satu provinsi termiskin di negeri ini. Salaht satu sebabnya adalah tanahnya yang sulit ditumbuhi tanaman produktif. Karena itu, industri pariwisata diharapkan dapat menjadi sumber pemasukan alternatif, baik bagi daerah maupun masyarakatnya. Apalagi selain komodo, alam NTT juga indah.

Dengan mengetengahkan semua paparan tersebut, baik Wijayanto, Junardy, Emmy Hafild maupun Jusuf Kalla semua berharap peran aktif semua pihak untuk mendukung kelanjutan pembangunan pulau Komodo sebagai tujuan wisata yang menarik turis mancanegara. Apalagi ditambah pembicara dari kalangan pengusaha yaitu Sofjan Wanandi yang terutama mengharapkan dukungan pemerintah. Kemudahan birokrasi dalam mengurus perizinan terutama untuk investasi sangat didambakan. Semua itu agar Indonesia bisa dikenal di dunia internasional sebagai tujuan wisata yang atraktif.

December 05th, 2011 | Author: bhayu

Tema lengkap seminar ini seperti dituliskan dalam flyer publikasinya adalah “Peran & Posisi Indonesia Young Entrepeneurs dalam Menghadapi dalam menghadapi Peta Ekonomi CHINDONESIA (China, India, Indonesia)”. Diadakan di cafe Tartine, fx Centre Senayan. Tampil sebagai pembicara adalah Christovita Wiloto (founder dan chairman IYE!), Dr. A. Prasetyantoko (Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Katolik Indonesia (Unika) Atmajaya Jakarta), Rudy Hartono (Pembina Yayasan Olahragawan Indonesia), Era Soekamto (owner Urban Crew & Urban Garmindo), Hendi Setiono (owner Kebab Baba Rafi dan penerima aneka penghargaan entrepreneurship), serta Julie Shie (pengusaha muda yang sukses sebelum berusia 30 tahun).

Seperti telah saya tuliskan dalam artikel yang diposting di blog LifeSchool (baca kembali di sini), saya datang terlambat karena menghadiri seminar tentang ICT (yang ulasannya dimuat tepat sebelum tulisan ini di website ini). Karena itu, pemaparan Dr. A. Prasetyantoko tidak saya dapatkan. Saat saya datang, beliau sedang menjawab pertanyaan dari hadirin. Saya hanya sempat mendengar bahwa istilah Chindonesia diciptakan oleh konsultan manajemen Morgan Stanley. Dan sepintas saya dengar bahwa alasan utama membuat terminologi itu adalah karena ketiga negara memiliki jumlah penduduk yang besar.

Sewaktu datang, saya langsung duduk di samping Mexson Sitompul, General Manager Power PR sebagai bagian dari Wiloto Corp. Untuk diketahui, IYE! ini merupakan program yang dirancang sebagai CSR (Corporate Social Responsibility) dari perusahaan yang dimiliki oleh Christovita Wiloto. Nah, dari Bung Mexson inilah saya kemudian mendapatkan tiga lembar TOR (Term Of Reference) untuk pembicara.

Dari TOR itulah saya bisa mendapatkan gambaran lumayan. Karena terus-terang saja, hingga akhir seminar saya merasa kurang mendapatkan jawaban dari tema seminar ini. Apalagi panitia sama sekali tidak membagikan makalah atau semacamnya. Untuk itu, saya kutipkan keterangan yang saya anggap penting dari TOR tersebut:

Cashmore, ekonom Kepala CLSA Asia-Pacific Markets dalam laporannya mengatakan China, India dan Indonesia sudah melakukan aktivitas ekonomi 44 persen dari ekonomi Amerika Serikat. Lima tahun ke depan, GDP China, India dan Indonesia akan mencapai US$ 10 trilyun, bahkan di tengah pertumbuhan ekonomi yang melambat.

China

Saat ini, PDB China mencapai US$ 5,9 trilyun atau terbesar kedua di dunia. China menguasai 24 persen ekonomi dunia.

India

Saat ini, India telah meningkatkan investasi luar biasa besar dari 24 persen PDB pada 2000 menjadi 40 persen PDB pada 2010. Negara yang memiliki populasi terbesar kedua di dunia, diperkirakan akan menjadi mesin pertumbuhan besar kedua setelah China.

Indonesia

Dari 565 juta populasi ASEAN, Indonesia mencakup 40 persennya. Dari total PDB US$ 1,3 triliun, 50 persennya juga dikuasai Indonesia. Dalam pertemuan G20 di Washington untuk mendiskusikan krisis ekonomi global dan financial, Barrack Obama mengutip laporan Morgan Stanley mengatakan Indonesia adalah contoh untuk dunia dengan pertumbuhan ekonomi tercepat di dunia.

Dari pemaparan TOR itu, saya mendapatkan insight bahwa banyak peluang yang bisa ditangkap oleh anggota IYE! menghadapi era Chindonesia. Apalagi dalam seminar itu kemudian dikaitkan dengan peluncuran kartu perdana baru dengan sistem keagenan pulsa yang dipegang oleh IYE! Kartu yang dikeluarkan satu operator telepon seluler ternama ini bekerjasama dengan Yayasan Olahragawan Indonesia (YOI) dan ditujukan untuk membantu para atlet kita yang telah pensiun.

Meski bagi saya agak ‘maksa’, namun bolehlah peluang itu diejawantahkan dalam bentuk apa pun. Bagi saya, ketiga pembicara pasca Rudy Hartono dan perwakilan keagenan pulsa menerangkan mengenai sistem di atas, justru memberikan perspektif lebih luas.

Julie Shie yang memiliki keluarga berada dan sudah berbisnis sejak usia belia memaparkan bahwa di Indonesia masalah terutama adalah birokrasi. Ia kerap menghadapi kendala saat berurusan dengan peraturan di Indonesia yang membingungkan. Julie lantas membandingkannya dengan Singapura dan Thailand yang sangat mempermudah investor.

Sementara Era Soekamto menceritakan mengenai upayanya membuat dunia fashion lebih diterima. Masih banyak orangtua yang melarang anaknya menggeluti dunia ini karena dianggap tidak prospektif. Era membuktikan sebaliknya ia justru sukses besar dengan berkecimpung di dalamnya. Untuk mempromosikan Indonesia, Era juga menggunakan unsur-unsur etnik tradisional terutama batik dalam karyanya. Wanita cantik ini juga menggagas sebuah gerakan “Indonesia Menginspirasi” yang merupakan upayanya untuk berbagi pengalaman agar bisa menciptakan usahawan baru terutama di bidang fashion.

Tampil sebagai pembicara terakhir Hendi Setiono menceritakan lika-likunya memulai usaha. Ia mengatakan mulai usaha dengan modal Rp 4 juta yang dipinjam dari adiknya, segera setelah mengikuti Entrepreneur University. Berbekal kejelian mengamati pengalaman ayahnya yang menjadi operator telepon di Timur-Tengah, Hendi membuka gerai kebab pertamanya. Karena ia sudah menikah dan memiliki anak bernama “Rafi”, maka jadilah dinamakan “Kebab Baba Rafi”. Di awal usahanya, ia pun mengalami kesulitan seperti sepeda motornya pernah jatuh sehingga mengakibatkan roti-rotinya bertebaran di jalan. Beruntung ia memiliki istri setia yang selalu mendampinginya “jatuh-bangun”. Kini, Hendi juga berkiprah sebagai “political entrepreneur” dengan bergabung di HIPMI dan KADIN. Ia menyatakan bahwa networking harus dijalin dengan siapa saja termasuk politisi.

Dari ketiga pembicara pengusaha anggota IYE!, bisa ditarik benang merah sebagai berikut:

  1. Masalah birokrasi kerap masih jadi kendala terutama bagi bisnis yang bersifat ekonomi konvensional atau memerlukan perizinan panjang seperti bisnis pertambangan yang digeluti Julie Shie.
  2. Untuk memulai usaha, tidak perlu modal besar. Namun yang lebih penting tekad kuat dan ketekunan.
  3. Geluti usaha yang sesuai dengan minat atau passion.
  4. Jangan pedulikan orang lain yang mencibir atau menentang. Maju terus dengan usaha Anda.
  5. Kreatiflah dalam mencari ide bisnis karena semua bisa dijadikan uang.
  6. Berjejaring atau berteman (networking) sangat penting karena dari sana kita dan usaha kita akan dikenal.
December 01st, 2011 | Author: bhayu

Pada hari Rabu, 30 November 2011 saya diundang oleh Universitas Paramadina yang bekerjasama dengan Sekertariat Wakil Presiden dan Komisi Informasi Pusat dan didukung Kedutaan Besar Belanda untuk menghadiri seminar berjudul “ICT for Good Governance”. Acara berlangsung dari jam 09.00-12.30 WIB dikampus S-2 Paramadina, Gedung Energy Tower lantai 22, SCBD (Kawasan Niaga Sudirman)-Jakarta.

Setelah dibuka oleh Anies Baswedan dan Eddy Purwanto, seminar diawali dengan keynote speech dari Hadi Purnomo (Ketua BPK). Sementara hadir sebagai pembicara dalam seri pertama seminar ini adalah Agus Raharjo dan Agus Widjanarko. Ditampilkan juga pembahas yaitu Jamil Mubarok, Usman Abdhali Watik, Yuna Farhan dan Mulia Nasution. Tema seminar adalah “Transparansi Anggaran”.

Dalam seminar ini dibahas perspektif pemerintah dalam transparansi anggaran. Sebagai rakyat biasa, saya terkejut juga menyadari adanya fakta bahwa pemerintah bekerja cukup keras dalam mereformasi persoalan ini. Badan Pemeriksa Keuangan misalnya, dengan senjata Undang-Undang akan mewajibkan seluruh lembaga negara baik kementerian, BUMN, hingga pemerintah daerah dari pusat hingga kabupaten/kotamadya untuk melakukan pelaporan dengan ICT.

ICT sendiri adalah kependekan dari Information and Communications Technology. Sebelum membahas lebih jauh, mohon maaf saya agak terbatas membahas seminar ini karena ketiadaan makalah yang dibagikan panitia. Saya juga lupa membawa alat tulis memadai sehingga review ini hanya berdasarkan ingatan dan sedikit dari foto atas slide presentasi para pembicara.

Karena saya datang terlambat mencari jalan menghindari jalur 3-in-1, maka sambutan terlewatkan. Saat saya sampai, Ketua BPK Hadi Purnomo sedang menyampaikan keynote speech. Intinya beliau menyampaikan suatu sistem pelaporan kepada instansinya dari seluruh instansi pemerintah. Ia menyebut sistem itu sebagai Sinergi Nasional Sistem Informasi. Menurutnya, tahun 2012 seluruh kementerian, BUMN dan pemerintah daerah mulai provinsi hingga kabupaten/kotamadya harus mengikuti sistem ini.

Pembicara pertama adalah Agus Raharjo. Beliau adalah Kepala LKPP (Lembaga Kebijakan Pengadaan barang/jasa Pemerintah). Intinya, beliau menyatakan dengan LPSE (Layanan Pengadaan Secara Elektronik) diharapkan akan sangat mengurangi korupsi dalam sistem pengadaan barang/jasa pemerintah. Selama ini, tidak transparannya sistem membuat begitu banyak celah yang bisa dimanfaatkan. Nantinya, dengan ICT, diharapkan seluruh proses pengadaan baik di pusat maupun di daerah akan mudah dipantau oleh masyarakat. Termasuk bila ingin mengikuti tender atau proses semacamnya perkembangannya bisa ditelusuri secara online.

Dalam sesi kedua tampil Agus Widjanarko, Sekertaris Jenderal Kementerian Pekerjaan Umum (PU). Ia menampilkan website kementeriannya yang kemudian dipuji oleh pembahas dari KIP (Komisi Informasi Pusat) sebagai yang sudah memenuhi standar. Pemaparannya lebih banyak mengambil contoh dari website pu.go.id dan sedikit menampilkan cetak biru rencana ke depan.

Para pembahas yaitu Usman Abdhali Watik selaku Wakil Ketua Komisi Informasi Pusat Republik Indonesia, Yuna Farhan selaku Sekertaris Jenderal FITRA (Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran) dan Jamil Mubarok dari Masyarakat Transparansi Indonesia umumnya senada dalam memuji Kemen PU sebagai memiliki niat terdepan dalam menampilkan informasi yang transparan melalui ICT. Tentu saja ada sejumlah kritik dan masukan seperti perlunya ditampilkan rekapitulasi anggaran, namun secara umum semuanya memuji.

Menanggapi pertanyaan saya mengenai siapa saja yang bisa mengakses informasi dari berbagai instansi pemerintah tersebut, Usman menyatakan siapa saja rakyat Indonesia diperbolehkan. Tentu saja yang dikecualikan seperti informasi dana nasabah bank. Seharusnya dengan ICT malah tanpa diminta pun informasi tersebut sudah disajikan di website masing-masing institusi pemerintah.

January 23rd, 2011 | Author: bhayu

Pada tanggal 13 Januari 2011, saya diundang oleh Universitas Paramadina untuk menghadiri seminar nasional bertema “Perempuan, Ruang Publik dan Islam”. Dalam seminar yang didukung oleh Kedutaan Besar Denmar dan Asia Foundation tersebut tampil sejumlah pembicara. Setelah pidato pembukaan dari Rektor Universitas Paramadina Anies Baswedan, Ph.D., Duta Besar Denmark untuk Indonesia Borge Petersen, Country Representative Asia Foundation Dr. Robin Bush dan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Linda Amalia Sari Gumelar, S.IP., disusul dengan seminar dan talkshow yang terbagi dua sesi.

Pada sesi pertama yang bertema “Membaca Data, Fakta dan Norma: Perempuan dan Islam tampil sebagai pembicara Dr. Ir. Soebandi Sardjoko, M.Sc. (Direktur Kependudukan, Pemberdayaan Perempuan, dan Perlindungan Anak BAPPENAS), Yuniyanti Chuzaifah (Ketua Komnas Perempuan), dan K.H. Husein Muhammad (Komisioner Komnas Perempuan) menggantikan Nasaruddin Umar  yang berhalangan hadir. Sementara pada sesi kedua digelar dalam format talkshow yang berupa experience sharing (berbagi pengalaman) para pembicara yang terdiri dari: Shanti Poesposoetjipto (Chairman of Soedarpo Corp.) ,Prof. Dr.  Hj. Masyitoh Chusnan, M.Ag. (Rektor Universitas Muhammadiyah Jakarta), dan Indira Abidin,S.E.,M.Ed. (Managing Director Fortune PR). Di sesi kedua ini Khofifah Indar Parawansa (mantan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan) yang juga dijadwalkan ternyata tidak jadi hadir.

Dalam format seminar berupa presentasi, Soebandi dari BAPPENAS mengemukakan data yang mencengangkan. Antara lain fakta bahwa tingkat kepandaian perempuan di sekolah ternyata lebih tinggi daripada laki-laki. Namun, ironisnya, saat memasuki dunia kerja, justru perempuan sedikit. Lebih sedikit lagi yang mendapatkan pekerjaan yang baik dan posisi yang tinggi. Ia juga mengemukakan program pemerintah yang disebut PPRG, kepanjangan dari Perencanaan dan Penganggaran yang Responsif Gender. Di sini PPRG dipakai untuk melihat keseluruhan anggaran pemerintah dari perspektif gender, agar dapat mengintegrasikan kebutuhan laki-laki dan perempuan, anak laki-laki dan perempuan, dan kelompok yang termarginalkan. Artinya, dalam setiap perencanaan anggaran pemerintah akan mengalokasikan anggaran memadai untuk perempuan dan kelompok marginal. Terus-terang, saya sendiri yang memang tidak berkecimpung di dunia feminisme –hanya sebagai peminat saja- banyak tidak tahu soal program pemerintah yang dipaparkan dalam presentasi ini.

K.H. Husein Muhammad sebagai praktisi pemberdayaan perempuan yang berasal dari latar belakang ahli agama bicara sesuai kompetensinya. Ia banyak membahas mengenai pandangan agama Islam terhadap perempuan. Ia mengutarakan bahwa dalam Islam, perempuan memiliki seluruh potensi kemanusiaan sebagaimana yang dimiliki laki-laki. Dalam Konferensi Organisasi Konferensi Islam (OKI) di Kairo tahun 1990, juga telah disepakati mengenai prinsip-prinsip Hak Asasi Manusia (HAM). Di dalam salah satu pasal deklarasinya (pasal 6) disebutkan: “Perempuan dan laki-laki adalah setara dalam martabat sebagai manusia dan mempunyai hak yang dinikmati ataupun kewajiban yang dilaksanakan; ia (perempuan) mempunyai kapasitas sipil dan kemandirian keuangannya sendiri, dan hak untuk mempertahankan nama dan silsilahnya.” K.H. Husein Muhammad juga mengemukakan contoh bahwa Nabi sendiri mendorong perempuan di sekitarnya untuk maju. Misalnya saja Khadijah istri pertama Nabi adalah seorang pengusaha sukses. Demikian pula Aisyah istri Nabi yang lain, Fathimah putrinya serta Zainab cucunya adalah perempuan-perempuan cerdas yang terkemuka di masyarakat. Maka tidak seharusnya umat Islam -terutama lelaki- menghalangi perempuan untuk berkiprah di ruang publik.

Sementara Yuniyanti Chuzaifah banyak menyoroti masalah praktikal dalam penerapan perlindungan terhadap hak perempuan di ruang publik. Ia antara lain menyoroti banyaknya “Perda Syariah” yang menjadikan perempuan sebagai obyek. Demikian pula derita pekerja migran atau lazim dikenal sebagai TKW (Tenaga Kerja Wanita) juga menjadi sorotannya. Kasus penyerangan terhadap golongan minoritas dengan contoh jama’ah Ahmadiyah yang ternyata juga melanggar hak-hak perempuan. Terjadi ancaman besar kepada perempuan yang bahkan masuk pula ke ranah privat.

Dalam sesi talkshow, Shanti dan Indira bercerita bahwa di keluarga mereka peran perempuan sudah tidak masalah. Sedari kecil, mereka sudah didorong untuk maju. Walau bagi Shanti yang termasuk generasi tua (usianya sudah sekitar 70 tahunan), ibunya sempat meminta agar jabatannya tidak setinggi suaminya. Artinya, meski ia putri pendiri perusahaan –Soedarpo Sastrosatomo yang merupakan tokoh perunding Indonesia di era kemerdekaan-, namun suaminyalah yang diharapkan memegang kendali. Namun kemudian, ternyata Shanti-lah yang kemudian memegang kendali perusahaan ayahnya yang tidak hanya satu itu. Indira Abidin menggarisbawahi pentingnya ICT (Information and Communication Technology) bagi perempuan agar dapat makin terberdayakan. Sementara Prof. Masyitoh menceritakan tentang keluarganya dan suaminya yang mendorongnya untuk maju. Berasal dari keluarga yang asal status ekonominya tidak setinggi Shanti dan Indira, Masyitoh setapak demi setapak berhasil menjadi rektor pertama di lingkungan perguruan tinggi yang dikelola Muhammadiyah.

Dari seminar nasional tersebut, saya menyadari problematika mengenai perempuan masih banyak. Hal ini berjalin-berkelindan dengan masalah-masalah perlindungan dan pemberdayaan bagi kaum marginal lain. Para pembicara menyarankan agar tidak menggantungkan pada kebijakan pemerintah semata, namun masyarakatlah yang harus menumbuhkan kesadaran dan membuat gerakan mandiri. Sinergi antar elemen juga masih perlu dipererat, jangan hanya pada saat seminar saja berduyun-duyun datang, sementara di lapangan terkesan masing-masing berjuang sendirian.

{Bhayu M.H.}

November 13th, 2010 | Author: bhayu

Dalam memilih media cetak jenis majalah, dua majalah ini secara subyektif dianggap mewakili karakter majalah berita mingguan Indonesia. Majalah Tempo dipilih karena secara usia merupakan majalah paling tua yang masih ada, meski sempat berhenti terbit beberapa kali. Demikian pula dengan Gatra. Majalah sejenis di pasaran sudah tidak ada yang menyamai level keduanya. Meski ada majalah Trust, namun dari segi oplah dan luasnya sirkulasi peredaran, Tempo dan Gatra tetap yang paling luas. Majalah berita lain seperti Forum Keadilan sudah lama tak terbit. Apalagi, sebagian awak Gatra adalah ‘alumni’ Tempo. Sehingga menarik membandingkan cara kedua majalah ini menurunkan laporan mengenai berita yang sama.

Dari tampilan luar, Tempo tampak lebih siap dengan sampul yang sudah digarap rapi, menampilkan gambar Obama yang diolah dari fotonya. Gambar ini khas karena mengenakan peci yang merupakan tutup kepala khas Indonesia. Yang unik, dasi Obama bercorak seperti pola yang lazim digunakan di kafiyeh –penutup kepala khas Timur Tengah- yaitu kotak-kotak hitam-putih. Hal lain yang menarik adalah corak di peci Obama bila diamati bergambar naga, hewan mitologis khas China. Satu simbolisasi yang cerdik dan multi-tafsir.

Gatra tampil dengan sampul biasa saja, yaitu foto Obama melambaikan tangan di depan dinding bercat merah-putih. Bisa ditebak -karena hampir semua media massa menggunakan juga foto di momentum ini- foto terpasang tersebut adalah foto Obama saat memberikan orasi di Universitas Indonesia, 10 November 2010. Foto tersebut nyaris digunakan begitu saja tanpa sentuhan apa pun. Dari segi tampilan sampul, jelas Tempo jauh lebih unggul daripada Gatra.

Judul headline yang digunakan hampir mirip, dengan Gatra tampaknya menunggu hingga “last minute” untuk menggunakan kalimat yang digunakan Obama di UI, yaitu “Pulang kampung nih!”. Sementara judul Tempo tampaknya lebih awal dipersiapkan dengan lebih sederhana, yaitu “Obama Pulang.”

Artikel Tempo yang jelas dipersiapkan lebih awal itu juga terlihat dari judul yang digunakan di halaman dalam, tempat artikel “Laporan Utama” berada. Judul itu adalah “24 Jam Lawatan Obama”. Padahal, faktanya Obama hanya berada di Indonesia selama 19 jam. Kalimat pertama setelah lead pun masih memakai kata pengandaian “Jika”: “Jka tak ada aral, Presiden Barack Obama akan tiba…” Jadwal terbit yang 8 November 2010 menyebabkan hal itu.

Sementara jadwal terbit Gatra “lebih menguntungkan”, yaitu 11 November. Karena itu jelas sekali Gatra menunggu hingga “the last minute” termasuk saat Obama berkunjung ke UI. Berita di Gatra menjadi lebih hangat dan actual daripada di Tempo.

Jumlah hal Laporan Utama sebanyak 10 halaman ditambah 1 halaman kolom dengan tema terkait menjadikan Gatra unggul dibandingkan Tempo yang hanya 5 halaman saja. Demikian pula dengan ilustrasi foto dimana Tempo menggunakan hanya 4 foto dengan semua foto Obama bukan foto di Indonesia –karena saat Tempo naik cetak Obama belum datang-, berbanding dengan 8 foto di Gatra dengan 5 foto Obama terbaru dari seri kunjungan Presiden A.S. itu ke Asia -4 di Indonesia, 1 di India-, menjadikan Gatra lebih berwarna. Ini masih ditambah 1,5 halaman grafik yang menggambarkan detail angka perekonomian A.S.-Indonesia dengan bagus.

Tentu saja, mengingat laporan Tempo dibuat sebelum kunjungan Obama, maka kedalamannya menjadi kurang. Tempo hanya menurunkan analisa terhadap situasi sebelum Obama datang ke Indonesia. Apa hasil yang dicapai selama berkunjung, hanya Gatra yang mampu menyajikan.

Apa yang dipaparkan di atas adalah laporan media atau media monitoring dengan pendekatan analisa wacana. Tidak semua unsur dalam analisa wacana dipergunakan karena justru pengamatan hanya akan memakai analisa pembingkaian media (Media Framing Analysis, selanjutnya disingkat MFA). Patut dicatat, meski menggunakan MFA sebagai ‘pisau bedah’, namun keseluruhan tulisan hanya membahas secara sepintas saja, atau dengan kata lain MFA Sederhana. Karena kajian semacam ini bahkan bisa menjadi satu skripsi tersendiri apabila dibahas tuntas dan mendalam.

Dalam MFA, terdapat dua model kerangka yang populer dipergunakan. Kerangka pertama adalah model Pan dan Kosicki, kerangka kedua adalah model Gamson dan Modigliani. Tentu saja, semuanya dinamai menurut nama penciptanya.

Sebagaimana dituliskan oleh Alex Sobur (2001:175-182), MFA menurut Zhongdan Pan dan Gerald M. Kosicki melalui tulisannya Framing Analysis: An Approach to News Discourse (1993) itu membagi perangkat pembingkaian menjadi empat struktur besar: sintaksis, skrip, tematik, dan retoris. Sintaksis diamati dari bagan berita, yaitu bagaimana wartawan menyusun aneka bahan menjadi susunan kisah berita. Skrip melihat bagaimana strategi bercerita atau bertutur yang dipakai wartawan dalam mengemasnya. Tematik berhubungan dengan cara wartawan mengungkapkan pandangannya. Retoris berhubungan dengan cara wartawan menekankan hal tertentu.

Sementara model yang dikembangkan William A. Gamson dan Andre Modigliani didasarkan pada pendekatan konstruksionis dengan melihat representasi media yang terdiri atas paket (package) interpretatif yang mengandung makna tertentu. Dimana dalam dua package ini terdapat core frame dan condensing symbols, dimana struktur kedua mengandung lagi dua sub-struktur yaitu framing devices dan reasoning devices.

Di sini saya memilih model pertama yaitu dari Pan dan Kosicki semata karena lebih mudah dipahami dan relatif lebih cepat membuatnya. Alasan ini sangat subyektif dan sama sekali tidak hendak menunjukkan bahwa salah satu metode lebih baik daripada yang lain. Dalam model ini, digunakan bagan sebagai berikut untuk memetakan pembingkaian media:

KERANGKA FRAMING PAN & KOSICKI

STRUKTUR

PERANGKAT FRAMING

UNIT YANG DIAMATI

SINTAKSIS

Cara wartawan menyusun berita

1. Skema Berita

Headline, lead, latar informasi, kutipan, sumber, pernyataan, penutup

SKRIP

Cara wartawan mengisahkan fakta

2. Kelengkapan Berita

5 W + 1 H

TEMATIK

Cara wartawan menulis fakta

3. Detail

4. Maksud kalimat,

hubungan

5. Nominalisasi antar

kalimat

6. Koherensi

7. Bentuk Kalimat

8. Kata Ganti

Paragraf, proposisi.

RETORIS

Cara wartawan menekankan fakta

9. Leksikon

10. Grafis

11 .Metafor

12. Pengandaian

Kata, idiom, gambar/foto, grafik.

Tabel diambil dari Sobur (2001:176)

Pada dasarnya, MFA mengasumsikan bahwa saat menurunkan berita atau laporan apa pun, media massa selalu memiliki bingkai tertentu. Bingkai inilah yang coba diurai saat kita menganalisa berita yang ada. Karena dalam hal ini pembaca/pendengar/pemirsa hanya mendapati hasil jadi. Sementara bingkai yang digunakan ‘tertinggal di meja redaksi’. Ini sebenarnya wajar, sama seperti saat kita hendak memotret suatu peristiwa, tidak mungkin kita mampu merekam segala kejadian ke dalam kamera. Apa yang kita rekam adalah kejadian yang dipandang dari tempat kita berdiri. Dan jelas terbatas pada bingkai yang ada pada kamera kita. Berita pun begitu. Karena ruangan halaman di media cetak dan waktu tayang di media elektronik terbatas, maka perlu dilakukan pembingkaian. Dalam hal ini, tak bisa dipungkiri akan ada praduga (presumption) atau prasangka (prejudice). Hal ini menjadikan bingkai semata subyektif tergantung kebijakan redaksi media masing-masing.

Akan halnya dengan pemberitaan tentang Obama, setiap media massa di Indonesia menggunakan bingkai besar yang tampak serupa: “Arti penting kedatangan Obama bagi Indonesia.” Yang berbeda adalah sub-bingkai atau bingkai kecilnya. Media cetak yang memiliki keterbatasan ruangan halaman fisik dan juga medianya yang hanya dua dimensi mau tak mau membatasi diri pada sudut pandang tertentu. Sudut pandang ini membentuk bingkai.

Untuk Tempo, bingkai kecil yang dipakai adalah sejarah hubungan A.S.-Indonesia dari masa ke masa dan terutama dalam konteks kepentingan A.S. di Asia. Mengingat ada simbolisasi naga di peci Obama yang dijadikan ilustrasi sampul, ternyata di halaman Laporan Utama diturunkan tulisan satu halaman penuh tentang ini. Judulnya “Pesan untuk Sang Naga”, dengan jelas mengulas kepentingan A.S. terhadap China, negara pemilik simbol naga tersebut.

Sementara Gatra lebih memilih laporan model reportase daripada Tempo yang ulasan atau analisa. Perjalanan Obama selama di Indonesia direkam satu per satu dan dijabarkan, bak membuat laporan perjalanan. Walau begitu, ulasan atau analisa tetap tidak ditinggalkan, terutama saat menjabarkan mengenai hubungan perekonomian Indonesia-A.S. Karena itu, bingkai kecil Gatra adalah bagaimana hubungan antara Indonesia-A.S. akan terpengaruh oleh kunjungan Obama. Jadwal cetak dan edar Gatra yang lebih belakangan memungkinkan merekam apa saja kegiatan Obama di Indonesia, termasuk orasinya yang membesarkan hati di Universitas Indonesia. Dengan demikian, Gatra menjadi lebih akurat dalam hal memprediksi masa depan hubungan A.S.-Indonesia pasca kunjungan Obama dibandingkan Tempo yang terkesan masih meraba mengingat laporannya diturunkan sebelum kunjungan Obama.

Sebagai perbandingan, berikut ini saya buatkan tabel untuk membedakan laporan Tempo dan Gatra tentang kunjungan Obama ke Indonesia. Tabel ini menggunakan bagan dari model Pan dan Kosicki seperti yang telah dikutip di atas.

No

Perangkat Framing

Tempo

Gatra

1.

Skema Berita

Headline kurang menggigit. Lead kurang mengundang. Tidak ada kutipan langsung dari Obama selama di Indonesia. Sumber kebanyakan para pengamat dan pejabat pemerintah.

Headline cukup menggigit, namun justru terasa basi karena banyak media lain terutama harian juga mengutipnya. Banyak kutipan langsung dari ucapan Obama selama di Indonesia. Lead cukup menggiring. Sumber variatif.

2.

Kelengkapan Berita

Kurang. Karena hanya berupa analisis, tulisan laporan utama menjadi seperti opini belaka.

Bagus. Karena memang menuangkan laporan pandangan mata. Unsur-unsur 5W+1H terpenuhi.

3.

Detail

Tidak ada laporan pandangan mata. Analisis dikedepankan karena memang jadwal terbit tidak memungkinkan menunggu laporan lapangan.

Terurai dalam bentuk laporan pandangan mata. Bagian analisis tampak sebagai pelengkap. Namun data dalam analisis justru lebih detail daripada Tempo.

4.

Maksud kalimat, hubungan

Jelas dan mengalir. Pembaca dengan pengetahuan cukup mampu memahami dengan sekali baca.

Bagus di laporan pandangan mata. Namun perlu waktu lebih lama mencerna analisa mengenai perekonomian.

5.

Nominalisasi antar kalimat

Baik, efektif dan efisien.

Bagus, efektif, efisien dan bertutur lancar.

6.

Koherensi

Keterkaitan antar artikel cukup bagus, meski hanya berupa analisa. Bahkan ada koherensi antara simbol naga di ilustrasi sampul dengan artikel di bagian dalam.

Antar artikel seperti berdiri sendiri. Bagian di mana dituliskan laporan pandangan mata tentang kunjungan Obama dengan analisa tentang hubungan perekonomian A.S.- Indonesia kurang melekat.

7.

Bentuk Kalimat

Deskriptif.

Naratif.

8.

Kata Ganti

Redaksi memposisikan diri sebagai pengamat, orang ketiga jamak.

Redaksi memposisikan diri sebagai orang ketiga jamak, namun tidak hanya sebagai pengamat, namun juga narrator.

9.

Leksikon

Cukup variatif. Terdapat sejumlah diksi yang bagus. Beberapa kata sinonim dipergunakan bergantian.

Rata-rata. Kemampuan penulis (redaktur/wartawan) dalam memilih perbendaharaan kata perlu ditambah.

10.

Grafis

Sampul penuh simbolisasi, bagus secara visual. Halaman laporan utama tidak ada yang berarti. Grafis dan foto kurang dan tidak bicara banyak.

Sampul kurang sentuhan, kurang menarik. Halaman laporan utama cukup bagus, terutama dalam membuat data statistik penuh angka menjadi menarik.

11.

Metafor

Sang Naga untuk melambangkan China, satu halaman penuh artikel ulasan. Selain itu tidak ada.

Tidak terlalu jelas. Hanya judul di salah satu artikel laporan utama: “ Koboi Republik”, dan “Berkat si Kaya, Independen dan Teh Celup”. Selain itu tidak jelas sehingga dianggap tidak ada.

12.

Pengandaian

Makna kunjungan Obama dipertanyakan pada lead: sekedar “silaturahmi” atau ada agenda serius? Selain itu tidak jelas.

Dalam artikel “Mengeruk Potensi Investasi Amerika” banyak prediksi yang bisa disebut pengandaian terhadap masa depan.

Dengan dipaparkannya tabel di atas, tampak lebih jelas bahwa secara MFA, Gatra unggul di aspek keluasan dan variasi pemaparan fakta, namun Tempo yang menang pengalaman dari awak redaksinya lebih mampu memaparkan fakta dengan konsisten, taat asas dan kedalaman memadai dari fakta terbatas. Kesimpulan akhirnya, untuk dua edisi yang terbit bersamaan dan mengulas kunjungan kenegaraan Obama ke Indonesia, Gatra masih lebih bermanfaat bagi pembaca dengan liputan pandangan mata dan ulasan dari beragam sisi.

November 13th, 2010 | Author: bhayu

Sebelum mengulas mengenai pengamatan atas pemberitaan media mengenai kunjungan Barack Obama ke Indonesia, saya hendak memberikan pengantar mengenai analisa media itu sendiri. Dalam ilmu komunikasi, pembahasan mengenai isi media (media content) merupakan sebuah kajian yang diperlukan dalam memahami bagaimana media massa sebagai medium atau saluran komunikasi menyampaikan pesan dari pemberi pesan (komunikator) kepada pembaca/pendengar/pemirsa sebagai penerima pesan (resipient).

Awalnya, analisa media merupakan sebuah analisa atas isi. Kini, pendekatan itu disebut pendekatan ‘tradisional’. Definisinya sebagaimana diutarakan oleh Berelson (McQuail 1991:179) adalah “teknik penelitian untuk uraian yang objektif, sistematis, dan kuantitatif dari pengejawantahan isi komunikasi.”

Namun seiring dengan perkembangan teknologi yang juga merambah pula ke media massa, analisa media pun berkembang. Kini dikenal setidaknya 3 model analisa media, yaitu:

  1. Analisa Wacana (Discourse Analysis)
  2. Analisa Semiotik (Semiotic Analysis)
  3. Analisa Pembingkaian (Framing Analysis)

Dalam tulisan berikutnya, saya hanya akan menggunakan analisa pembingkaian media saja. Konsep ini pertama kali dilontarkan oleh Beterson tahun 1955, yang dimengerti sebagai struktur konseptual atau perangkat kepercayaan yang mengorganisir pandangan politik, kebijakan, dan wacana, serta yang menyediakan kategori-kategori standar untuk mengapresiasi realitas. Erving Goffman di tahun 1974 menambahkan pengandaian bingkai sebagai kepingan perilaku (strips of behavior) yang membimbing individu dalam membaca realitas.

Kenapa realitas di sini menjadi penting? Karena harus dimengerti bahwa media massa pada dasarnya bekerja dengan mengkonstruksikan realitas. Namun, tidak semua realitas dapat dipotret oleh media. Karena itu, dipercaya bahwa terdapat bingkai tertentu yang digunakan pengelola media dalam mengkonstruksikan realitas yang memiliki beragam aspek. Maka, berita yang tersaji di media massa bisa dipastikan sudah melewati proses pembingkaian itu.

Catatan: Keterangan teoretis dalam tulisan di atas diambil dari buku karya Alex Sobur. Analisis Teks Media: Suatu Pengantar untuk Analisis Wacana, Analisis Semiotik dan Analisis Framing. Bandung: Remaja Rosdakarya, 2001.

November 12th, 2010 | Author: bhayu

Sebagai bentuk aktualisasi salah satu minat dan keahlian saya di bidang komunikasi, selama dua hari yaitu 10 dan 11 November 2010 saya memantau 7 media cetak berformat koran harian berskala nasional yang terbit di Jakarta. Ketujuh media itu adalah Kompas, Seputar Indonesia, Koran Tempo, Media Indonesia, Republika, Indo Pos, dan Rakyat Merdeka. Khusus untuk tanggal 11 November 2010 saya menambahkan harian Kontan. Saya juga mengamati dua majalah mingguan nasional utama yang formatnya serupa, yaitu Tempo dan Gatra.

Analisa terhadap media cetak tersebut difokuskan kepada berita utamanya tentang kunjungan Presiden Amerika Serikat Barack Hussein Obama selama 19 jam di Indonesia pada 9 hingga 10 November 2010. Hari pengamatan untuk koran harian dipilih pada tanggal 10-11 November 2010 karena bagi media cetak diperlukan waktu penyusunan bahan laporan mentah hingga naik cetak. Sehingga jelas sekali bila dipilih koran harian bertanggal 9 November belum akan memuat berita tentang kedatangan Obama. Berita tersebut baru dimuat sehari sesudahnya.

Pengamatan akan menggunakan analisa pembingkaian media (media framing analysis) untuk memotret media-media yang diamati. Ini merupakan sebuah contoh tulisan yang menunjukkan bahwa saya kompeten dan menguasai minat/bidang saya mengingat sebelumnya saya pernah ditertawakan di Kompasiana karena membaca isi blog ini yang memang sebelumnya berbeda positioning. Padahal, yang mentertawakan justru tidak jelas keahlian bahkan identitasnya.

Terima kasih.

Sukses, demi Indonesia Raya!

Bhayu M.H.

October 01st, 2010 | Author: bhayu

Para pengunjung yang terhormat,

Terima kasih sudah berkenan mampir, terutama yang sempat membaca blog saya LifeSchool.

Dengan makin seriusnya saya memperkenalkan diri sendiri sebagai “Personal Brand”, maka website ini pun akan mengalami re-positioning. Daripada saya mengumbar janji, lebih baik lihat saja perubahan yang akan terjadi. Mungkin tidak drastis, namun setidaknya akan memperkuat posisi baru saya sebagai seorang yang bertujuan “mencerdaskan bangsa”, setidaknya melalui sumbang pemikiran melalui tulisan.

Semoga Anda berkenan terus mampir untuk melihat perubahan apa yang saya tampilkan. Mungkin dari segi tampilan akan biasa saja, tapi tulisan yang akan diperkuat menjadi lebih “segmented”. Terutama terkait keahlian dan peminatan saya, sehingga tulisannya akan lebih teknis daripada terkesan “curhat”. Dengan demikian secara keilmuan akan berguna terutama mengingat saya memiliki lebih dari satu gelar akademis.

Salam saya untuk Anda & keluarga :)

Sukses, demi Indonesia Raya!

Bhayu M.H.

June 06th, 2010 | Author: bhayu

Pada hari ini, 6 Juni 2010, adalah hari peringatan kelahiran Dr.(HC) Ir. Soekarno atau Bung Karno yang lahir tahun 1901. Bila beliau masih hidup, usianya niscaya 109 tahun. Mungkin menjadi salah satu manusia tertua di Indonesia seperti sekarang sedang bermunculan karena adanya Sensus Penduduk 2010 oleh Badan Pusat Statistik (BPS). Akan tetapi, bagi saya, biarkanlah momentum ini menjadi momentum kelahiran kembali situs bhayu.net yang selama ini agak terbengkalai. “Maafkan aku yang sedikit melupakanmu”, demikian kutipan lagu Kamulah Satu-satunya dari Dewa 19 apabila saya hendak ‘bicara’ dengan situs ini.

Dulu, di tahun 1996, Tabloid Swadesi tempat saya bekerja juga melakukan luncur perdananya dalam format tabloid -setelah sebelumnya dalam format broadsheet- pada tanggal ini. Semoga, berkah tanggal 6 Juni menular juga pada saya. Aamiin.

Saat ini saya berencana mengembangkan blog-site ini menjadi format penulisan berbeda, walau belum tentu penampilannya diubah. Bisa jadi tulisan yang sudah ada akan dipindahkan ke situs lain. Pada saat ini saya masih mempertimbangkan sejumlah hal sembari melakukan perbaikan.

Semoga Tuhan memberkati usaha kita semua. Tuhan bersama orang-orang yang berjuang.

Sukses, demi Indonesia Raya!

Bhayu M.H.

October 09th, 2009 | Author: bhayu

Harus diakui, stamina saya mulai kedodoran dalam menulis. Sudah sekian lama saya tidak melakukan update di blog-website pribadi ini. Saya mohon maaf. Bahkan karena kesibukan, sakit atau malah libur, blog saya yang bernama LifeSchool pun sering kali terlompati. Untuk itu tak bosan-bosannya saya minta maaf.

Pada saat ini saya sedang melakukan penataan terhadap metode penulisan dan pengisian berbagai situs yang saya kelola. Sehingga nantinya pengunjung situs ini dapat lebih update membaca tulisan-tulisan dari saya. Karena bagaimana pun, saya ingin situs ini memberikan manfaat bagi Anda yang telah meluangkan waktu berkunjung. Terima kasih.

Sukses, demi Indonesia Raya!

Bhayu M.H.