Author Archive

August 03rd, 2010 | Author: bhayu

Dbawah ini saya cantumkan daftar 7 Kebiasaan Manusia Yang Sangat Efektif (7 Habits of Highly Effective People) yang diciptakan oleh Stephen Covey, beserta sedikit penjelasan singkat.

1. Jadilah Pro-Aktif.

Bersikap pro-aktif artinya bertanggung-jawab atas perilaku kita sendiri.

2. Merujuk Pada Tujuan Akhir

Segalanya diciptakan dua kali: secara mental baru kemudian secara fisik. Diperlukan suatu pernyataan   misi agar penciptaan mental terjadi.

3. Dahulukan Yang Utama

Mendahulukan yang utama artinya mengorganisasikan dan melaksanakan, apa-apa yang telah diciptakan secara mental.

4. Berpikir Menang/Menang

Cara berpikir yang berusaha mencapai keuntungan bersama, dan didasarkan pada sikap saling menghormati dalam semua interaksi.

5. Berusaha untuk Memahami Terlebih Dulu, Baru Dipahami

Berusaha memahami menuntut kemurahan, berusaha dipahami menuntut keberanian. Keefektifan terletak dalam keseimbangan di antara keduanya.

6. Wujudkan Sinergi

Sinergi adalah soal menghasilkan alternatif ketiga sebagai buah dari sikap saling menghargai.

7.  Mengasah Gergaji

Memperbaharui diri terus-menerus dalam keempat bidang kehidupan dasar: fisik, sosial/emosional, mental dan rohaniah.

August 01st, 2010 | Author: bhayu

Berdasarkan berbagai pertimbangan dan masukan, saya akan merevitalisasi situs ini dengan berbagai tulisan bermanfaat yang dapat dijadikan rujukan. Meski semula saya mengkuatirkan plagiarisme yang memang marak di Indonesia, namun keinginan berbagi ilmu dan pengetahuan lebih menggelora. Karena itu akan ada kategori baru yaitu “Artikel” dengan sejumlah sub-kategori sesuai bidang dimana saya memiliki sedikit ilmu dan pengetahuan untuk dituliskan.

Dan sekali lagi, terima kasih sudah berkunjung. Semoga situs ini memberi manfaat. :)

Category: Catatan dari Bhayu  | Tags:  | Leave a Comment
April 08th, 2009 | Author: bhayu

Orang yang baru kenal saya seringkali salah mengira, begitu mendengar atau mengetahui saya adalah Soekarnois, lantas menganggap saya adalah pendukung Megawati Soekarnoputri atau simpatisan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). Belum tentu. Kalau Anda jeli, dalam blog saya yang dihosting di wordpress.com yaitu http://www.lifeschool.wordpress.com, saya malah beberapa kali mengkritisi beliau dan partainya. Dan rasanya dari tulisan-tulisan tersebut jelas tidak menunjukkan kecenderungan afiliasi politik saya kepada keduanya. Walau ayah saya dulu pernah dekat dengan keluarga besar BK, bahkan Mega dan Taufik pernah beberapa kali bertamu ke rumah ayah saya sebagai seniornya di dekade 1970-an, hal itu tidak mempengaruhi independensi saya dalam memilih idola berdasarkan fakta.

Di sinilah saya hendak berbagi bagaimana menyaring fakta dan memilih idola. Tentu, ini subyektif cara saya yang terbiasa rasional dan memakai timbangan keadilan dari berbagai sudut pandang. Sehingga, ketika memutuskan untuk menyukai idola tertentu, hal itu sudah melalui sejumlah pertimbangan.

Dalam memandang idola beserta segala kelebihannya, pengidola terjebak pada fenomena hyper-realitas. Ini adalah istilah khas dari Jean Baudrillard, filsuf post-modernis asal Prancis. Kita hidup dalam realitas semu di ruang khayali yang bahkan citraannya melebihi realitas asli di dunia nyata. Dalam peristilahan Marshall McLuhan di buku klasiknya Understanding Media, The Extensions of Man (1964), teknologi terutama media telah membuat manusia memiliki perpanjangan atau ekstension. Sebagai ilmuwan yang pertama kali membahas mengenai fenomena hyper-realitas, Luhan di periode awal perkembangan computer tersebut telah mampu menengarai betapa nantinya perpanjangan manusia itu akan membawa kepada realitas yang bukan realitas. Walau begitu, berbeda dengan realitas yang kita lihat sekarang, dimana terjadi dehumanisasi sebagai ekses dari penggunaan teknologi, bagi Luhan teknologi masih dimungkinkan memiliki sisi humanis. Ekses dari hyper-realitas ini adalah munculnya aneka ragam idolatry yang di masa lalu tidak dimungkinkan. Kita tahu, ada aneka kontes yang menjanjikan pemenangnya untuk menjadi idola secara instant cuma dengan memenangkan sebanyak mungkin sms dari pemirsa. Walau secara teknis calon idola juga berusaha dengan tampil di atas panggung, akan tetapi pengidolaan semacam itu tidak dimungkinkan disaat teknologi dan media belum semaju sekarang.

Demikian pula halnya di dunia politik dan kenegaraan. Seorang yang memiliki citra sebagai tokoh yang berperan negatif dalam sejarah bangsa, melalui iklan atau jalur komunikasi lainnya dapat saja membentuk citra baru dirinya yang berbeda dan positif. Ini adalah realitas yang melampaui realitas. Citra baru itu adalah hyper-realitas. Dan masyarakat pemirsa karena tidak punya akses pada realitas aslinya, terpaksa menerima hyper-realitas itu sebagai realitas.

Di sinilah perbedaannya masyarakat yang ’terpaksa’ menerima hyper-realitas bentukan orang-orang yang membentuk dirinya sebagai idola dengan para pengidola yang secara ’sukarela’ bahkan ’fanatik’ menerima hyper-realitas sebagai pengganti realitas asli.

Bahkan, saat diberitahu bahwa citraannya tentang sang idola adalah hyper-realitas, bukan realitas asli, atau malah palsu, bisa jadi si pengidola malah mengamuk. Ia tidak terima karena citraan yang dibangunnya dalam alam khayalinya sendiri berupa gambaran mental dan pikiran tentang sang idola akan hancur. Ia lebih rela hidup dalam kepalsuan daripada harus menerima kenyataan bahwa sang idola tidaklah sesempurna citraan hyper-realitasnya.

Walau bisa diterima, namun pengidola macam ini jelas sudah masuk kategori penyandang penyakit kejiwaan. Dan idola yang merelakan diri bahkan sengaja membiarkan hyper-realitasnya melambung menutupi realitas aslinya juga sama sakit jiwanya. Mereka tidak mampu hidup di alam nyata.

Di sinilah saya lantas mengumpulkan fakta sebagai realitas asli dan asali, lantas membandingkannya dengan hyper-realitas yang dibentuk para idol. Fakta atau realitas sebenarnya suatu hal yang mudah dilihat dan diperhatikan. Akan tetapi, kerapkali memang fakta diciptakan oleh pihak-pihak yang saling berseteru. Akibatnya, tentu saja ada fakta yang bertolak-belakang. Dan tentu akhirnya akan terbukti adanya fakta palsu yang sengaja diciptakan untuk mengacaukan opini publik.

Di zaman peluberan informasi seperti ini, tidak semua informasi yang datang kepada kita adalah fakta. Bahkan, tidak semua fakta layak dipercaya. Ada pula fakta yang tidak teramati oleh semua orang. Ini jadi problema tersendiri dalam filsafat. Sebagai contoh, dalam suatu kasus pembunuhan dengan penembakan, biasanya polisi kesulitan mencari saksi karena keterangan mereka berbeda-beda. Bahkan untuk jumlah tembakan saja masing-masing saksi menyebutkan jumlah berbeda. Contoh paling terkenal dari hal ini adalah dibunuhnya Presiden ke-35 Amerika Serikat John Fitzgerald Kennedy. Dari kasus ini kemudian malah muncul hyper-realitas sendiri yang sengaja dicitrakan pihak tertentu.

Dari pengumpulan, pemilihan, dan pemilahan fakta inilah kita bisa menyaring mana yang hyper-realitas dan mana yang realitas asli-asali. Sayangnya, memang tidak semua orang punya kompetensi dan waktu melakukannya. Sehingga, kerapkali tahap ini diabaikan begitu rupa. Bagi saya, untuk mengambil seseorang atau sesuatu menjadi idola, perlu proses. Karena dari idola ini saya akan meneladani sesuatu dan menerapkannya dalam hidup saya.

Dan memang, penelusuran terhadap realitas itu ternyata hasil temuannya mengejutkan. Dan itulah mengapa saya memilih untuk mengidolakan Soekarno, tapi tidak anaknya. Saya tidak mau menuliskannya di sini fakta yang saya ketahui, karena nanti bisa dianggap ”black campaign”. Apalagi tulisan ini diturunkan menjelang Pemilu.

Intinya adalah, dalam mengambil sosok idola sebagai panutan, cobalah melihat dari berbagai sudut pandang. Bahkan sudut pandang musuh sekali pun. Ada adagium yang mengatakan, musuhmu adalah teman terbaikmu. Ya, karena musuh akan mendedikasikan hidupnya untuk mencari dan mengumumkan kelemahan kita. Kalau kita awas dan tidak panas hati, itu malah bisa dipakai untuk perbaikan kualitas diri.

Demikian pula dengan idola. Andai ada pihak lain yang tidak menyukai idola kita, dengarkan pendapatnya. Siapa tahu, ada unsur kebenaran di dalamnya, apalagi jika ia melambari pendapatnya dengan fakta. Akan sangat baik bila kita tetap hidup dalam realitas se-realitas-realitasnya. Bukan hyper-realitas yang dibentuk para idola yang pastinya serba sempurna tanpa kekurangan.

(Bhayu M.H.)

April 08th, 2009 | Author: bhayu

Saya sudah membaca buku-buku karya Soekarno maupun karya penulis lain tentang dirinya semenjak masih belia. Di Bawah Bendera Revolusi saya baca saat masih kelas 5 SD. Tapi ya namanya anak kecil, bacanya lompat-lompat dan jelas tidak tuntas. Saya bukanlah manusia super yang serba hebat. Alamiah saja. Buku seberat itu tentu bukan konsumsi anak ingusan berusia 10-11 tahun seperti saya waktu itu. Tapi saya membaca tuntas sejumlah buku tulisan orang lain tentang si Bung. Satu yang saya ingat adalah karya John D. Legge. Tentu karena bahasanya yang lebih ringan.

Akan tetapi buku yang berhubungan dengan Bung Karno yang paling berkesan bagi saya adalah karya Cindy Adams: Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia. Wartawati asal Amerika Serikat itu berhasil mengungkap sisi-sisi Presiden Pertama R.I. itu yang belum pernah atau jarang diketahui umum. Misalnya saja kisah percintaannya maupun kebiasaan sehari-harinya.

Dari buku itulah saya bisa melihat si Bung yang dipuja banyak orang tapi juga dicaci musuh-musuhnya sebagai manusia biasa. Di balik seragam kebesaran Panglima Tertinggi berbintang limanya, Soekarno tetaplah manusia biasa. Manusia yang tidak cuma punya obsesi tinggi membuat negeri baru bernama Indonesia berdiri sejajar sama tinggi dengan bangsa-bangsa lain di dunia, tapi juga punya obsesi besar kepada wanita cantik. Bung Karno yang gemar tampil necis di depan umum, tapi ternyata cuma memakai kaos oblong bolong dipadu sarung saat di rumah.

Jika mengingat teori post-modern yang dilontarkan filsuf seperti Baudrillard, saya lantas mengaitkan Bung Karno asli dengan citraan. Banyak orang lebih mengenal citraannya, atau dalam istilah Baudrillard adalah simulacrum-nya. Entah si pemilik citraan sengaja atau tidak, tapi efek dari penciptaan citraan kerapkali bergulir cepat bak bola salju di luar kendali pemilik atau penciptanya. Citra Bung Karno yang flamboyant dan kerap easy going sehingga terkesan meremehkan banyak hal, berbalik menjadi negatif saat diserang musuh-musuhnya. Di tahun 1965, saat ia digoyang oleh kekuatan yang kelak dikenal sebagai Angkatan ’66 yang berhasil mendirikan Orde Baru, kegemarannya akan wanita lantas menjadi identik dengan sikap tidak bertanggung-jawab dan suka buang-buang uang. Padahal, Soekarno justru presiden paling miskin dalam sejarah Indonesia. Saat Soeharto dan timnya melakukan pendataan kekayaan presiden digulingkannya itu di tahun 1967-1968, mereka tidak menemukan apa pun. Kekayaan Soekarno cuma sebatas gajinya saja, yang tentu habis untuk keperluan sehari-hari. Semua benda-benda seni yang dibelinya disumbangkan kepada negara. Bahkan ia tidak punya mobil pribadi. Sehari-hari semasa berkuasa, ia memang banyak disumbang dan dibantu sahabat-sahabatnya yang pengusaha seperti Dasa’ad atau Djunaedi.

Citra yang kerap lebih diyakini dan dikenal masyarakat itulah yang diserang. Tidak peduli aslinya tidak begitu, asal citraannya rusak, maka dianggap secara keseluruhan pribadinya sudah rusak pula. Di akhir masa pemerintahannya, Soekarno gagal memperbaiki citranya. Hal itu mengalahkan kelogisan dan fakta nyata.

Kalau kita membaca pidato Nawaksara dan Pelengkap Nawaksara yang disampaikannya kepada MPRS pasca peristiwa 1 Oktober 1965, sebenarnya isinya sudah menjawab persoalan. Sebagai Presiden, ia sudah mempertanggung-jawabkan kejadian yang bahkan sebenarnya bukanlah tanggung-jawabnya itu. Tapi ia terlambat. Musuh-musuhnya sudah bergerak. Anggota MPRS di tahun 1967 yang menyelenggarakan Sidang Istimewa untuk meminta pertanggungjawaban Soekarno itu sudah bukan lagi anggota yang sama dengan hasil Dekrit 1959, melainkan sudah diganti oleh Soeharto sebagai Pengemban Tap MPRS No. XII/1966. Ketetapan MPRS ini mengukuhkan Supersemar sebagai hukum negara. Maka, citra Bung Karno yang sudah rusak diperparah dengan penolakan pidato pertanggungjawabannya yang memaksanya mundur dari tampuk kepresidenan.

Dalam buku Cindy Adams yang dibuat sebelum peristiwa 1965 itu, masih tampak citra yang ingin dibangun Soekarno sebagai pembela rakyat. Tak heran dalam buku tersebut impian dan cita-cita Soekarno untuk menjadi seseorang yang diingat bangsanya dengan baik masih tergambar jelas. Ia sendiri mencoba menceritakan riwayat hidupnya kepada Cindy Adams selaku penulis biografinya. Dengan begitu, ia berupaya membangun citra dirinya. Akan tetapi, Cindy Adams selaku wartawati berpengalaman pun merekam sendiri citranya tentang Bung Karno. Maka, perpaduan dua pandangan inilah yang kemudian membentuk citra diri yang nyaris mendekati aslinya. Mengambil istilah Gadamer, kondisi ini disebut fusi horizon. Meski agak berbeda karena dalam teorema aslinya fusi horizon adalah antara horizon pembaca dan pengarang. Sementara bagi buku Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia ini fusi horizonnya adalah antara penulis biografi dan tokoh yang ditulis biografinya. Keunikan itulah yang membuat saya menyukai buku ini.

(Bhayu M.H.)

April 06th, 2009 | Author: bhayu

Rasanya saya tak perlu menceritakan ulang riwayat hidup tokoh inspiratif kita kali ini. Karena tentu saja sebagai rakyat Indonesia, banyak sumber yang bisa dirujuk untuk tahu riwayat hidupnya. Di sini saya justru hendak menceritakan teladan apa yang saya ambil dari beliau.

Terus terang, sebagai seorang anak tunggal, tentu frekuensi saya bicara dengan orang lain di rumah tidak sebanyak anak non tunggal yang punya adik dan/atau kakak. Apalagi dulu ayah saya cukup sibuk dan ibu saya pun relatif tidak banyak bicara. Maka, menjadi sebuah ketakutan tersendiri bagi saya saat di kelas 4 SD wali kelas saya mengikutsertakan saya dalam sebuah lomba khotbah. Saya kaget. Memang, saat itu saya juara umum dalam prestasi akademik di sekolah. Tapi bukan berarti lantas saya juga jago ngomong. Saya pun panik memikirkan lomba itu. Tapi dasar saya yang doyan belajar, maka saya pun membeli sebuah buku. Judulnya Teknik Berpidato dan Memukau Massa. Di situ ada penjelasan tentang bagaimana berpidato dan tentu saja ada contoh dari tokoh-tokoh dunia yang jago berpidato. Salah satunya Soekarno. Karena ada beliau yang saya kagumi, tentu saja saya makin ingin jadi jago pidato. Tapi ada kelemahan yang saya tidak sadari. Pidato itu lisan, sementara buku adalah tulisan. Maka, membaca saja tanpa praktek dan mendengarkan contoh itu tidak berarti. Pendeknya, meski buku itu membantu meningkatkan rasa pe-de saya, tetap saja dalam lomba saya kalah. Hehe. Ini hidup, bukan sinetron. Jadi, biarpun saya jagoannya, tetap saja saya kalah.

Saya baru bisa mendapatkan kaset yang berisi rekaman pidato Bung Karno sewaktu kelas 1 SMP. Asal Anda tahu, hingga era 1980-an, Orde Baru masih begitu alergi terhadap Soekarno dan segala sesuatu tentangnya. Jadi, cukup sulit mendapatkan kaset rekaman pidatonya. Walau tidak langsung, dengan mendengarkan rekaman pidato Bung Karno di berbagai kesempatan, kemampuan saya bicara di muka umum meningkat. Itu berefek pada dipercayanya saya menjadi ketua organisasi ekstra-kurikuler. Kalau Anda membaca riwayat hidup saya, akan tahu bahwa saya mulai aktif berorganisasi ekstra-kurikuler ya di SMP ini. Jadi, si Bung membantu saya untuk mengatasi rasa minder bicara di depan umum.

Soekarno juga memberikan saya pelajaran, kalau masyarakat kita sesungguhnya tidak menyukai poligami. Dalam hal beragama, Soekarno sendiri mengakui kalau dirinya tidaklah setaat itu. Jangankan poligami, wong shalat saja bolong-bolong kok. Di saat akhir kekuasaannya, para penentangnya juga memakai isyu ini sebagai alat untuk menjatuhkannya. Ia diibaratkan raja yang gemar gaya hidup ala istana dengan haremnya.

Namun teladan yang saya pelajari benar-benar justru caranya memerintah negara. Meski terkesan keras apalagi senang mengenakan seragam militer, Soekarno sesungguhnya rapuh hati. Ia tidak tegaan terhadap lawan politiknya. Anda mungkin membantah karena ia pernah memenjarakan sejumlah tokoh dan membubarkan partai politik. Tapi ingatlah, saat ia melakukan itu, ia adalah diktator dalam periode Orde Lama (1959-1967). Di negara lain, diktator tidak sekedar memenjarakan lawan politiknya, tapi menghukum mati!

Sikap lemah hati ini paling tampak saat masa krisis 1966, dimana ia justru menolak membubarkan PKI. Suatu sikap yang justru jadi bumerang baginya. Ia juga menolak melawan Soeharto yang saat itu jelas-jelas sudah tampak itikadnya untuk merebut kekuasaan. Sementara, para pendukungnya sudah gemas menunggu komando dari pimpinan tertingginya. Tapi komando itu tak kunjung datang. Padahal, secara militer kekuatan pendukung Soeharto lebih kecil dari pendukung Soekarno. Hanya keraguan Soekarno yang membuat Soeharto bisa bergerak lebih cepat dan melumpuhkan lawannya yang lebih besar.

Ia juga kurang memahami persoalan ekonomi dan agak malas belajar hal baru. Antisipasinya terhadap keadaan yang berubah juga kurang. Semenjak naik sebagai Presiden dari negara baru yang dimerdekakannya, ia tidak sadar bahwa tuntutan rakyat berubah. Rakyat butuh makan, bukan revolusi yang tak kunjung selesai. Toh sikap konfrontatif ini sangat berguna dalam menghadapi musuh dari pihak luar. Misalnya ia berani bersikap keras terhadap negara lain yang dianggapnya merongrong Indonesia. Tercatat dua kali ia memerintahkan operasi militer besar melawan kekuatan asing: Trikora untuk merebut Irian Barat dan Dwikora untuk menggagalkan pembentukan Federasi Malaysia oleh Inggris. Yang pertama relatif berhasil, yang kedua digagalkan oleh pengkhianatan sejumlah personel dalam tubuh TNI yang condong pada Soeharto. Sikap ini yang kurang dimiliki pemimpin saat ini. Menghadapi negara tetangga kita yang berkali-kali menghina kedaulatan dan kehormatan bangsa saja pendekatannya sangatlah diplomatis dan terkesan lembek.

Sikap yang bertentangan ini diklaim olehnya sendiri karena ia berbintang Gemini. Katanya, itu wujud kekembaran. Makanya sikap dan sifatnya bisa bertolak belakang. Tapi bagi praktisi psikologi, itu sebenarnya adalah wujud dari karakter bipolar. Dan itu memang sulit dipahami. Menurut pengamatan saya, hampir semua pemimpin besar dunia dan orang suci utusan Tuhan itu bipolar sempurna (maaf bila tak sependapat). Saya sendiri juga bipolar. Ini adalah kelainan psikologis yang membuat orang bisa bertindak pada kutub-kutubnya. Ia bisa amat lembut berbuat kebaikan, tapi juga bisa tega dan keras saat menghukum kesalahan. Ini masalah kejiwaan, yang bila dioptimalkan akan sangat berguna. Tapi bila gagal, ya bisa konflik sendiri di dalam batinnya dan bukan tidak mungkin berakhir di rumah sakit jiwa.

Jadi, meski saya bisa dikategorikan pengagum Soekarno, tapi saya bukanlah pengikut beliau seperti ayah saya. Karena saya melihat beliau dari berbagai sisi. Dan di situlah saya melihat sisi-sisi yang tidak perlu diteladani. Karena kalau pengikut, sudah pasti prinsipnya “pejah gesang nderek Bung Karno”. Saya? Ya nggak lah… masak ya nggak dong! It’s my life getoo lhoh! Ngapain juga mati hidup ikut orang lain? Ya nggak?

(Bhayu M.H.)

April 01st, 2009 | Author: bhayu

Masih tanggal 1 April sekarang. Meski hampir tengah malam. Secara prinsip sebenarnya hampir semua hal sudah siap. Anda sudah bisa membaca isi blog-site ini. Maka, dengan mengucap Bismillahirrahmaanirrahiim, saya memutuskan untuk meluncurkan blog-site ini. Pada peralihan malam antara tanggal 1 dan 2 April, saya akan mengupdate beberapa hal, termasuk isi (content) blog-site dan beberapa widget. Mohon do’anya, semoga blog-site ini dapat berguna bagi kita semua.

Sukses, demi Indonesia Raya!

Bhayu M.H.

April 01st, 2009 | Author: bhayu

Saya adalah anak yang terlahir di lingkungan marhaenis dan pengikut –bukan cuma pengagum- Soekarno. Sejak kecil, saya mengagumi Presiden Pertama Indonesia ini. Walau seiring berjalannya waktu yang mendewasakan, saya makin realistis terhadap beliau. Salah satu bentuk kekaguman saya kepadanya saya wujudkan dengan mengoleksi apa pun yang ‘berbau’ dirinya. Selain buku-buku lawas yang saya ‘warisi’ dari bapak saya, saya sendiri juga kerap membeli buku-buku terbitan baru tentang dirinya. Selain itu, dinding kamar saya dipenuhi pula dengan poster foto dan gambarnya. Tentu saya juga punya kaset pidatonya dan asesoris lain seperti baju atau sticker bergambar fotonya.

Jadi, kalau anak lain mengagumi selebritis dunia hiburan, saya malah tergila-gila pada negarawan seperti dirinya. Mungkin aneh, tapi memang begitulah kenyataan hidup saya. Dan saya tidak malu dengan keanehan itu.

Salah satu benda koleksi yang paling saya ingat proses pembeliannya adalah sebuah patung dada Bung Karno dari kuningan. Patung itu saya beli sekitar tahun 1986 di areal pemakaman beliau di Blitar. Bagi yang pernah ‘nyekar’ ke sana, pasti tahu kalau di sana banyak toko-toko yang menjual aneka souvenir.

Saya ingat patung itu justru karena ketidakjujuran saya. Waktu itu, dalam kondisi toko yang remang-remang, saya melakukan pembelian setelah menawar. Saya masih ingat harga patung itu Rp 4.000,-. Dan saya membayar dengan uang Rp 5.000,-. Tapi karena gelap, ternyata saya mendapat kembalian Rp 6.000,-. Rupanya karena si penjual mengira uang saya Rp 10.000,-. Waktu itu, pecahan uang kertas kita terbesar memang Rp 10.000,- bergambar Ibu Kartini.

Dan meski saya tahu uang kembalian itu berlebih karena kesalahan si penjual, saya diam saja. Uang itu saya terima dan patungnya saya bawa. Artinya, saya dapat patung itu secara gratis, malah ditambahi Rp 1.000,-.

Kejadian kecil itu semacam itu mungkin mudah dilupakan bagi orang lain, tapi tidak bagi saya. Hingga kini, saya masih menyesali ketidakjujuran saya. Kejadian saat saya kelas 4 SD itu masih menghantui saya. Saya hanya bisa berdo’a, semoga si penjual mendapatkan rezeki berlebih dari ALLAH karena kezaliman saya. Karena jelas saya sudah tidak ingat yang mana toko penjualnya di antara puluhan toko yang ada di sana. Jadi, niat mengembalikan kelebihan uang itu jelas sudah sangat kecil kemungkinannya.

Dari momentum itu, saya menjadi malu. Ternyata, saya orang yang mudah sekali mengambil kesempatan dalam kesempitan, atau menari di atas penderitaan orang lain. Dan semenjak itu, saya berusaha terus memperbaiki diri dengan berupaya jujur saat bertransaksi. Baik sebagai penjual maupun pembeli. Sehingga, semoga saja Tuhan membukakan jalan kebaikan bagi kita dengan upaya sederhana untuk berlaku jujur dalam kehidupan kita.

(Bhayu M.H.)

March 29th, 2009 | Author: bhayu

Film ini menginspirasi saya begitu rupa. Selain itu film ini dipilih karena kesesuaian dengan tema posting seri pertama, yaitu tentang menaklukkan batas-batas kemanusiaan dengan bertualang di alam. Film besutan sutradara Martin Campbell di tahun 2000 ini niscaya membuat siapa pun yang sempat menonton di bioskop turut menggigil. Tak heran, sepanjang film penonton disuguhi perjuangan berbagai kelompok pendaki gunung dari berbagai kebangsaan untuk mendaki K-2 di Pakistan. Gunung ini adalah puncak kedua tertinggi di dunia setelah gunung Everest.

Tokoh utama film ini memang Peter Garret yang diperankan Chris O’Donnell, namun justru pertemuannya dengan para pendaki gunung lain saat sedang berupaya mendaki itulah yang lebih seru. Apalagi saat terjadi badai dan kecelakaan, tiap orang yang berada di sana berusaha saling menyelamatkan. Tim yang dipimpin Peter Garret terpencar karena badai salju, sehingga ia segera membentuk tim penyelamat yang terdiri dari seluruh pendaki yang masih ada di base camp di kaki gunung. Dan upaya pertolongan tanpa pamrih tanpa mengenal batas kebangsaan dan agama sangat mengharukan.

Juga ada pelajaran mengenai kerjasama tim. Terutama saat ada anggota tim yang harus dikorbankan demi menyelamatkan yang lain. Pemahaman mengenai hal ini sangat penting bagi kita yang bekerja, karena pencapaian tujuan tim adalah yang utama. Tujuan yang telah ditetapkan bersama merupakan komitmen sehingga setiap anggota tim harus rela memberikan yang terbaik bagi pencapaiannya.

Bagi saya yang muslim, adegan saat Kareem Nazir dan Malcolm melakukan shalat di tengah salju yang menghampar membuat hati saya tergetar. Memuji kebesaran Illahi. Saya lantas teringat saat beberapa kali dulu berkesempatan mendaki gunung dan melaksanakan shalat shubuh sendirian saat yang lain masih tertidur, nikmatnya tiada tara. Meski tubuh menggigil kedinginan, apalagi saya shalat di bawah air terjun, tapi perasaan kecil di hadapan alam saja membuat udara dingin jadi tak berarti. Apalagi perasaan sedang menghadap Tuhan yang menguasai alam membuat segala kesombongan diri menjadi luluh. Dan tentunya tekad untuk menjadi lebih baik sepulangnya dari pendakian, telah membuat kita menjadi manusia yang berbeda.

Bhayu M.H.

March 25th, 2009 | Author: bhayu

Hari ini, rencananya saya akan melakukan peluncuran penuh untuk blog-site ini. Namun apa mau dikata, manusia berusaha, Tuhan jua yang menentukan. Walau rencananya saya akan memberikan hadiah istimewa untuk seorang yang juga istimewa bagi saya di hari ini dengan blog-site ini, toh Tuhan berkehendak lain. Maka, pada hari ini terpaksa saya luncurkan versi Charlie yang tak direncanakan. Meski begitu, alhamdulillah setidaknya sudah 80 % blog-site ini selesai. Jadi, silahkan dinikmati dulu apa adanya yang terhidang. Mohon do’a restunya senantiasa. Insya ALLAH tanggal 1 April 2009 blog-site ini akan benar-benar sudah selesai. Aamiin.

March 25th, 2009 | Author: bhayu

Membaca riwayat hidup tokoh ini, segera saya menyadari bahwa ia telah mampu menembus batas-batas fisik manusia. Prestasinya luar biasa dan terukir abadi sebagai salah seorang petualang dan penjelajah terhebat yang pernah ada. Ia adalah Indiana Jones di dunia nyata. Dan saya jadi ingat lagi keterbatasan saya: masalah fisik. Meski dianugerahi tubuh yang bisa dibilang proporsional bahkan tinggi-tegap, kekuatan fisik saya jelas tak ada seperseribunya Fiennes.

Ya, karena lelaki inilah yang bersama rekan setimnya Oliver Shepard dan Charlie Burton sebagai manusia pertama yang mengelilingi bumi melewati kedua kutubnya. Perjalanan amat berat sejauh 110.000 mil atau sekitar 200.000 km untuk menuju tempat dengan kondisi paling ekstrem. Disebut ekstrem karena dalam kondisi ‘normal’ saja suhu di wilayah kutub mencapai -50 o C (minus lima puluh derajat Celcius. Sekadar bandingan, suhu rata-rata di Indonesia adalah 30 oC. Tentu Anda masih ingat pelajaran fisika dasar bahwa air membeku pada suhu 0 oC. Akan tetapi, itu belum seberapa. Karena apabila terjadi badai yang biasanya disertai angin kencang, suhu di kutub bisa drop hingga -84o C bahkan lebih.

Belum lagi di kutub selatan matahari sering tidak muncul. Harap diingat kalau di ‘bagian bawah’ planet Bumi itu kerap rotasi bumi terjadi dalam posisi miring menjauhi matarahi. Tentu kondisi itu memperparah iklim di sana. Karena itulah di kutub selatan tidak ada satu pun manusia yang tinggal. Sementara di kutub utara masih ada suku Eskimo yang mendiami wilayah paling ‘brrr’ di bumi itu.

Sebelum memulai ekspedisi, mereka lebih dulu menggalang dana selama tujuh tahun. Di saat itulah Ralph dan rekan-rekannya berlatih di gunung es Greenland yang dianggap mirip. Setelah berlatih di tahun 1976, tahun berikutnya ia bersama lima rekan termasuk istrinya sempat mencoba melakukan ekspedisi ke kutub Utara, namun gagal. Sampai akhir tahun 1977, Fiennes akhirnya berhasil mengumpulkan 1.500 sponsor dengan peralatan seberat 60 ton untuk ekspedisi besar tersebut. Direncanakan ekspedisi akan dimulai tahun 1979 dengan 30 orang anggota tim.

Di sore hari tanggal 2 September 1979, rombongan tersebut dilepas oleh Pangeran Charles. Rombongan tersebut menaiki kapal Benjamin Bowring dan berangkat dari pelabuhan Greenwich. Karena dipimpin oleh Fiennes yang warga negara Inggris, maka Pangeran Charles berkenan melepas karena bagaimanapun nantinya mereka membawa nama Inggris. Selain melalui jalan laut, tim inti justru mengambil jalan darat menggunakan tiga unit jeep Land Rover melalui rute melintasi Eropa hingga sampai ke Gurun Sahara dan berujung di Afrika Barat.

Begitu mencapai Spanyol, dua rombongan itu akan bergabung lantas menaiki kapal ke Aljazair. Lantas menempuh jalan darat lagi hingga Pantai Gading. Di sana, rombongan sudah ditunggu kapal dan diantarkan ke Cape Town. Perjalanan terus dilakukan hingga menuju Antartika.

Di tanggal 4 Januari 1980, kapal mencapai areal kutub. Akan tetapi, belum dapat sampai ke titik selatan kutub. Malah, 3 orang anggota ekspedisi tumbang dalam 11 hari pertama dan harus ditarik mundur. Rombongan yang tersisa harus bertahan melawan dinginnya cuaca. Shelter atau camp dibuat dengan cara melubangi perbukitan es. Ini karenat tenda biasa akan hancur diterjang angin kencang.

Bulan demi bulan dilalui tanpa perbaikan kondisi cuaca. Rombongan bertahan dalam lubang di bukit es yang digali selama dua bulan dengan panjang hanya sekitar 125 meter saja. Barulah di bulan Oktober matahari muncul dan bersinar, menandakan perubahan cuaca. Sejak sampai di kawasan Antartika pada bulan Januari, ekspedisi baru berhasil menjejakkan kaki sepenuhnya di Kutub Selatan pada 15 Desember 1980.

Setelah berhasil mencapai tujuan pertamanya, pada 23 Desember 1980 rombongan segera bertolak ke Utara, menuju Kutub Utara. Rute yang dipakai melalui Selandia Baru, melewati Sydney di Australia, lalu langsung ke Los Angeles di Amerika Serikat. Tak berhenti, rombongan meneruskan hingga ke Vancouver di Kanada, dimana di sinilah terletak perbatasan dengan Alaska. Memasuki kawasan kutub Utara, rombongan ekspedisi menyusuri sungai Yukon mencapai Samudera Arktik. Dalam perjalanan ini, tim Fiennes sempat bertamu ke pemukiman bangsa Eskimo di Tuktoyaktuk pada 24 Juli 1981.

Tepat pada hari ke-750 ekspedisi besar itu dilangsungkan, yaitu tanggal 26 September 1981, Fiennes menjadi ragu akan keberhasilan misi mereka. Apalagi ia pernah gagal mencapai kutub Utara di tahun 1977. Pertolongan datang di saat tepat berupa kedatangan istrinya Ginnie atau Virginia. Pangeran Charles juga mengontak melalui radio dan memberikan semangat. Putra mahkota kerajaan Inggris itu sekaligus juga memberitahukan ada rombongan ekspedisi Norwegia yang sedang menyusul tim Inggris tersebut. Ekspedisi Norwegia dipimpin oleh Erling Kagge, ‘musuh bebuyutan’ Fiennes yang berambisi menjadi orang pertama yang sampai ke kutub Utara tanpa bantuan. Pengertian tanpa bantuan di sini adalah tanpa sokongan atau supply bahan pendukung dari dunia luar selain yang dibawa oleh tim.

Rombongan ekspedisi Fiennes harus berjuang menembus medan es yang membeku hingga kapal yang mereka gunakan tak mampu lagi berlayar lebih jauh karena kepadatan es tak terpecahkan. Tiga orang anggota tim inti (Fiennes, Shepard dan Burton) kemudian turun dari kapal pada 13 Februari 1982 dan meneruskan perjalanan dengan mobil khusus es dan berjalan kaki. Barulah pada tanggal 10 April 1982 ketiga orang itu berhasil mencapai kutub Utara, tepat pada pukul 23.30 GMT (Greenwich Meridien Time). Maka, tercapailah rekor baru atas nama ketiganya.

Setelah berkemas, keseluruhan anggota tim kembali mendarat di pelabuhan Greenwich pada 29 Agustus 1982. Mereka disambut oleh Pangeran Charles. Di kemudian hari mereka bertiga akan dianugerahi “Medali Kutub” oleh Ratu Elizabeth II sekaligus diangkat sebagai bangsawan kehormatan dan berhak memakai gelar “OBE (Order of the British Empire).

Fiennes masih akan melakukan beberapa ekspedisi lagi pasca keberhasilannya itu, walau secara resmi ia menyatakan pensiun pada 1983. Hal itu karena usai ekspedisi besar tersebut ternyata ia berhutang lebih dari 23.000 pound atau sekitar Rp 300 juta. Meski mendapatkan ketenaran, namun secara material ia tidak mendapatkan apa-apa.

Maka, ketika ada milyarder Inggris Dr. Armand Hammer menawarinya pekerjaan, dengan segera Fiennes menyambarnya. Karir di perusahaan tersebut membawanya menjadi Wakil Presiden Hubungan Masyarakat di Occidental Petroleum Corporation, perusahaan milik Hammer. Walau sudah menjadi eksekutif, toh ia masih sempat pula menjelajah tempat-tempat yang tak mampu dijangkau manusia lain. Seperti di tahun 1992 saat ia kembali ke kutub Selatan bersama Dr. Mike Stroud. Kini, ia menjadi motivator dan telah menulis sejumlah buku laris berdasarkan petualangannya.

Bagi saya, keberhasilannya menjelajahi alam liar bukan sekedar menaklukkan alam belaka, tapi ia berhasil menaklukkan batas-batas manusia. Ia telah membuktikan dirinya melampaui ambang kemampuan manusia lain. Dan itu membuatnya layak dijadikan tokoh inspiratif.

Bhayu M.H.

Sumber Foto: Royal Geographical Society