Archive for the Category » Momen Yang Menginspirasi «

April 01st, 2009 | Author: bhayu

Saya adalah anak yang terlahir di lingkungan marhaenis dan pengikut –bukan cuma pengagum- Soekarno. Sejak kecil, saya mengagumi Presiden Pertama Indonesia ini. Walau seiring berjalannya waktu yang mendewasakan, saya makin realistis terhadap beliau. Salah satu bentuk kekaguman saya kepadanya saya wujudkan dengan mengoleksi apa pun yang ‘berbau’ dirinya. Selain buku-buku lawas yang saya ‘warisi’ dari bapak saya, saya sendiri juga kerap membeli buku-buku terbitan baru tentang dirinya. Selain itu, dinding kamar saya dipenuhi pula dengan poster foto dan gambarnya. Tentu saya juga punya kaset pidatonya dan asesoris lain seperti baju atau sticker bergambar fotonya.

Jadi, kalau anak lain mengagumi selebritis dunia hiburan, saya malah tergila-gila pada negarawan seperti dirinya. Mungkin aneh, tapi memang begitulah kenyataan hidup saya. Dan saya tidak malu dengan keanehan itu.

Salah satu benda koleksi yang paling saya ingat proses pembeliannya adalah sebuah patung dada Bung Karno dari kuningan. Patung itu saya beli sekitar tahun 1986 di areal pemakaman beliau di Blitar. Bagi yang pernah ‘nyekar’ ke sana, pasti tahu kalau di sana banyak toko-toko yang menjual aneka souvenir.

Saya ingat patung itu justru karena ketidakjujuran saya. Waktu itu, dalam kondisi toko yang remang-remang, saya melakukan pembelian setelah menawar. Saya masih ingat harga patung itu Rp 4.000,-. Dan saya membayar dengan uang Rp 5.000,-. Tapi karena gelap, ternyata saya mendapat kembalian Rp 6.000,-. Rupanya karena si penjual mengira uang saya Rp 10.000,-. Waktu itu, pecahan uang kertas kita terbesar memang Rp 10.000,- bergambar Ibu Kartini.

Dan meski saya tahu uang kembalian itu berlebih karena kesalahan si penjual, saya diam saja. Uang itu saya terima dan patungnya saya bawa. Artinya, saya dapat patung itu secara gratis, malah ditambahi Rp 1.000,-.

Kejadian kecil itu semacam itu mungkin mudah dilupakan bagi orang lain, tapi tidak bagi saya. Hingga kini, saya masih menyesali ketidakjujuran saya. Kejadian saat saya kelas 4 SD itu masih menghantui saya. Saya hanya bisa berdo’a, semoga si penjual mendapatkan rezeki berlebih dari ALLAH karena kezaliman saya. Karena jelas saya sudah tidak ingat yang mana toko penjualnya di antara puluhan toko yang ada di sana. Jadi, niat mengembalikan kelebihan uang itu jelas sudah sangat kecil kemungkinannya.

Dari momentum itu, saya menjadi malu. Ternyata, saya orang yang mudah sekali mengambil kesempatan dalam kesempitan, atau menari di atas penderitaan orang lain. Dan semenjak itu, saya berusaha terus memperbaiki diri dengan berupaya jujur saat bertransaksi. Baik sebagai penjual maupun pembeli. Sehingga, semoga saja Tuhan membukakan jalan kebaikan bagi kita dengan upaya sederhana untuk berlaku jujur dalam kehidupan kita.

(Bhayu M.H.)

March 25th, 2009 | Author: bhayu

Beberapa tahun lalu, saya memang pernah beberapa kali naik gunung sebagai sarana mendekatkan diri kepada alam. Tentu saja, saya bukanlah pendaki gunung profesional. Saya ngos-ngosan saat harus hiking berkilo-kilometer. Saya juga tidak mampu memanjat tebing cadas betulan –walau bisa memanjat tebing berupa dinding buatan atau biasa disebut wall climbing- dan tidak menguasai teknik dan peralatan pendakian gunung. Naik gunung bagi saya adalah ikut rombongan yang dipandu pencinta alam profesional dan saya cuma ikut berjalan sebagai anggota tim biasa saja di belakangnya. Aktivitas ini lazim disebut pula sebagai hiking.

Satu waktu di tahun 2001, saya diajak teman wanita saya untuk ikut rombongan pendakian gunung bersama klub pencinta alam satu hotel terkenal di Jakarta. Saya dan teman wanita saya itu cuma jadi tamu saja, sementara kebanyakan anggota adalah karyawan hotel tersebut. Cuma ada sekitar lima orang yang non-karyawan. Kami saat itu berencana mendaki Gunung Salak di Jawa Barat.

Jujur saja, saya tak pernah berlatih khusus dan agak meremehkan pendakian itu. Ternyata, saya kena batunya. Di sana, nafas saya benar-benar habis. Dari sekian tim yang dibentuk bergelombang untuk naik ke atas, saya termasuk anggota tim kedua dari belakang. Sementara, tim paling akhir adalah anggota rombongan yang cedera atau sakit.

Ada momentum yang menginspirasi saya di sana. Tim kami akhirnya bergabung dengan ‘tim sakit’ karena mereka membutuhkan bantuan. Dengan demikian, dalam skema pendakian, kami menjadi tim yang terarkhir mendaki. Walau begitu, karena tiada peta dan hanya dipandu satu orang pendaki berpengalaman di tiap tim, ternyata tim kami bukanlah tim terakhir yang turun dari pendakian. Ada tim yang menempuh rute berbeda sehingga tersalip oleh tim kami tanpa sengaja. Saat tim kami beristirahat, kami sempat disalip tim lain yang berjalan cepat untuk turun dengan jumawa sambil meledek. Akan tetapi, ternyata setelah pendakian selesai dan semua tim sudah sampai di base camp termasuk tim saya, tim yang tadi menyalip belum sampai juga. Mereka baru sampai lebih dari tiga jam setelah tim saya sampai, ketika hari sudah gelap. Kondisi fisik mereka terlihat amat lelah dan wajahnya bingung. Ternyata, mereka tersesat. Tanpa bermaksud mensyukuri kesusahan orang lain, kami semua mafhum bahwa itu akibat kejumawaan yang mereka tunjukkan tadi saat menyalip tim kami yang beberapa di antaranya terdiri dari anggota yang sakit. Rupanya, ‘ingkang mbaurekso’nya Gunung Salak telah memberi mereka pelajaran.

Bagi pendaki gunung atau pecinta alam pasti mafhum, kita tidak boleh sembarangan bicara dan bertindak saat berada di alam liar. Karena di sana merupakan ‘rumah’ dari banyak hal yang kita kurang pengetahuan tentangnya. Saya sendiri mengambil pelajaran dari momentum itu untuk makin rendah hati.

Saat kita sedang di atas, jangan mengejek orang lain yang sedang di bawah. Karena, keadaan bisa berbalik. Dan saat berbalik, belum tentu orang lain akan ingat dan menolong kita, apalagi kalau kita bertingkah jumawa saat di atas. Lebih dari itu, andaikata kondisi kita sedang di bawah, tetaplah semangat. Karena dengan perjuangan, hasil akhir niscaya bisa dicapai. Bahkan bisa jadi lebih gemilang dari perkiraan kita.

Tuhan bersama orang-orang yang berjuang!

Bhayu M.H.