Orang yang baru kenal saya seringkali salah mengira, begitu mendengar atau mengetahui saya adalah Soekarnois, lantas menganggap saya adalah pendukung Megawati Soekarnoputri atau simpatisan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). Belum tentu. Kalau Anda jeli, dalam blog saya yang dihosting di wordpress.com yaitu http://www.lifeschool.wordpress.com, saya malah beberapa kali mengkritisi beliau dan partainya. Dan rasanya dari tulisan-tulisan tersebut jelas tidak menunjukkan kecenderungan afiliasi politik saya kepada keduanya. Walau ayah saya dulu pernah dekat dengan keluarga besar BK, bahkan Mega dan Taufik pernah beberapa kali bertamu ke rumah ayah saya sebagai seniornya di dekade 1970-an, hal itu tidak mempengaruhi independensi saya dalam memilih idola berdasarkan fakta.
Di sinilah saya hendak berbagi bagaimana menyaring fakta dan memilih idola. Tentu, ini subyektif cara saya yang terbiasa rasional dan memakai timbangan keadilan dari berbagai sudut pandang. Sehingga, ketika memutuskan untuk menyukai idola tertentu, hal itu sudah melalui sejumlah pertimbangan.
Dalam memandang idola beserta segala kelebihannya, pengidola terjebak pada fenomena hyper-realitas. Ini adalah istilah khas dari Jean Baudrillard, filsuf post-modernis asal Prancis. Kita hidup dalam realitas semu di ruang khayali yang bahkan citraannya melebihi realitas asli di dunia nyata. Dalam peristilahan Marshall McLuhan di buku klasiknya Understanding Media, The Extensions of Man (1964), teknologi terutama media telah membuat manusia memiliki perpanjangan atau ekstension. Sebagai ilmuwan yang pertama kali membahas mengenai fenomena hyper-realitas, Luhan di periode awal perkembangan computer tersebut telah mampu menengarai betapa nantinya perpanjangan manusia itu akan membawa kepada realitas yang bukan realitas. Walau begitu, berbeda dengan realitas yang kita lihat sekarang, dimana terjadi dehumanisasi sebagai ekses dari penggunaan teknologi, bagi Luhan teknologi masih dimungkinkan memiliki sisi humanis. Ekses dari hyper-realitas ini adalah munculnya aneka ragam idolatry yang di masa lalu tidak dimungkinkan. Kita tahu, ada aneka kontes yang menjanjikan pemenangnya untuk menjadi idola secara instant cuma dengan memenangkan sebanyak mungkin sms dari pemirsa. Walau secara teknis calon idola juga berusaha dengan tampil di atas panggung, akan tetapi pengidolaan semacam itu tidak dimungkinkan disaat teknologi dan media belum semaju sekarang.
Demikian pula halnya di dunia politik dan kenegaraan. Seorang yang memiliki citra sebagai tokoh yang berperan negatif dalam sejarah bangsa, melalui iklan atau jalur komunikasi lainnya dapat saja membentuk citra baru dirinya yang berbeda dan positif. Ini adalah realitas yang melampaui realitas. Citra baru itu adalah hyper-realitas. Dan masyarakat pemirsa karena tidak punya akses pada realitas aslinya, terpaksa menerima hyper-realitas itu sebagai realitas.
Di sinilah perbedaannya masyarakat yang ’terpaksa’ menerima hyper-realitas bentukan orang-orang yang membentuk dirinya sebagai idola dengan para pengidola yang secara ’sukarela’ bahkan ’fanatik’ menerima hyper-realitas sebagai pengganti realitas asli.
Bahkan, saat diberitahu bahwa citraannya tentang sang idola adalah hyper-realitas, bukan realitas asli, atau malah palsu, bisa jadi si pengidola malah mengamuk. Ia tidak terima karena citraan yang dibangunnya dalam alam khayalinya sendiri berupa gambaran mental dan pikiran tentang sang idola akan hancur. Ia lebih rela hidup dalam kepalsuan daripada harus menerima kenyataan bahwa sang idola tidaklah sesempurna citraan hyper-realitasnya.
Walau bisa diterima, namun pengidola macam ini jelas sudah masuk kategori penyandang penyakit kejiwaan. Dan idola yang merelakan diri bahkan sengaja membiarkan hyper-realitasnya melambung menutupi realitas aslinya juga sama sakit jiwanya. Mereka tidak mampu hidup di alam nyata.
Di sinilah saya lantas mengumpulkan fakta sebagai realitas asli dan asali, lantas membandingkannya dengan hyper-realitas yang dibentuk para idol. Fakta atau realitas sebenarnya suatu hal yang mudah dilihat dan diperhatikan. Akan tetapi, kerapkali memang fakta diciptakan oleh pihak-pihak yang saling berseteru. Akibatnya, tentu saja ada fakta yang bertolak-belakang. Dan tentu akhirnya akan terbukti adanya fakta palsu yang sengaja diciptakan untuk mengacaukan opini publik.
Di zaman peluberan informasi seperti ini, tidak semua informasi yang datang kepada kita adalah fakta. Bahkan, tidak semua fakta layak dipercaya. Ada pula fakta yang tidak teramati oleh semua orang. Ini jadi problema tersendiri dalam filsafat. Sebagai contoh, dalam suatu kasus pembunuhan dengan penembakan, biasanya polisi kesulitan mencari saksi karena keterangan mereka berbeda-beda. Bahkan untuk jumlah tembakan saja masing-masing saksi menyebutkan jumlah berbeda. Contoh paling terkenal dari hal ini adalah dibunuhnya Presiden ke-35 Amerika Serikat John Fitzgerald Kennedy. Dari kasus ini kemudian malah muncul hyper-realitas sendiri yang sengaja dicitrakan pihak tertentu.
Dari pengumpulan, pemilihan, dan pemilahan fakta inilah kita bisa menyaring mana yang hyper-realitas dan mana yang realitas asli-asali. Sayangnya, memang tidak semua orang punya kompetensi dan waktu melakukannya. Sehingga, kerapkali tahap ini diabaikan begitu rupa. Bagi saya, untuk mengambil seseorang atau sesuatu menjadi idola, perlu proses. Karena dari idola ini saya akan meneladani sesuatu dan menerapkannya dalam hidup saya.
Dan memang, penelusuran terhadap realitas itu ternyata hasil temuannya mengejutkan. Dan itulah mengapa saya memilih untuk mengidolakan Soekarno, tapi tidak anaknya. Saya tidak mau menuliskannya di sini fakta yang saya ketahui, karena nanti bisa dianggap ”black campaign”. Apalagi tulisan ini diturunkan menjelang Pemilu.
Intinya adalah, dalam mengambil sosok idola sebagai panutan, cobalah melihat dari berbagai sudut pandang. Bahkan sudut pandang musuh sekali pun. Ada adagium yang mengatakan, musuhmu adalah teman terbaikmu. Ya, karena musuh akan mendedikasikan hidupnya untuk mencari dan mengumumkan kelemahan kita. Kalau kita awas dan tidak panas hati, itu malah bisa dipakai untuk perbaikan kualitas diri.
Demikian pula dengan idola. Andai ada pihak lain yang tidak menyukai idola kita, dengarkan pendapatnya. Siapa tahu, ada unsur kebenaran di dalamnya, apalagi jika ia melambari pendapatnya dengan fakta. Akan sangat baik bila kita tetap hidup dalam realitas se-realitas-realitasnya. Bukan hyper-realitas yang dibentuk para idola yang pastinya serba sempurna tanpa kekurangan.
(Bhayu M.H.)


Recent Comments