Archive for the Category » Tokoh Inspiratif «

April 06th, 2009 | Author: bhayu

Rasanya saya tak perlu menceritakan ulang riwayat hidup tokoh inspiratif kita kali ini. Karena tentu saja sebagai rakyat Indonesia, banyak sumber yang bisa dirujuk untuk tahu riwayat hidupnya. Di sini saya justru hendak menceritakan teladan apa yang saya ambil dari beliau.

Terus terang, sebagai seorang anak tunggal, tentu frekuensi saya bicara dengan orang lain di rumah tidak sebanyak anak non tunggal yang punya adik dan/atau kakak. Apalagi dulu ayah saya cukup sibuk dan ibu saya pun relatif tidak banyak bicara. Maka, menjadi sebuah ketakutan tersendiri bagi saya saat di kelas 4 SD wali kelas saya mengikutsertakan saya dalam sebuah lomba khotbah. Saya kaget. Memang, saat itu saya juara umum dalam prestasi akademik di sekolah. Tapi bukan berarti lantas saya juga jago ngomong. Saya pun panik memikirkan lomba itu. Tapi dasar saya yang doyan belajar, maka saya pun membeli sebuah buku. Judulnya Teknik Berpidato dan Memukau Massa. Di situ ada penjelasan tentang bagaimana berpidato dan tentu saja ada contoh dari tokoh-tokoh dunia yang jago berpidato. Salah satunya Soekarno. Karena ada beliau yang saya kagumi, tentu saja saya makin ingin jadi jago pidato. Tapi ada kelemahan yang saya tidak sadari. Pidato itu lisan, sementara buku adalah tulisan. Maka, membaca saja tanpa praktek dan mendengarkan contoh itu tidak berarti. Pendeknya, meski buku itu membantu meningkatkan rasa pe-de saya, tetap saja dalam lomba saya kalah. Hehe. Ini hidup, bukan sinetron. Jadi, biarpun saya jagoannya, tetap saja saya kalah.

Saya baru bisa mendapatkan kaset yang berisi rekaman pidato Bung Karno sewaktu kelas 1 SMP. Asal Anda tahu, hingga era 1980-an, Orde Baru masih begitu alergi terhadap Soekarno dan segala sesuatu tentangnya. Jadi, cukup sulit mendapatkan kaset rekaman pidatonya. Walau tidak langsung, dengan mendengarkan rekaman pidato Bung Karno di berbagai kesempatan, kemampuan saya bicara di muka umum meningkat. Itu berefek pada dipercayanya saya menjadi ketua organisasi ekstra-kurikuler. Kalau Anda membaca riwayat hidup saya, akan tahu bahwa saya mulai aktif berorganisasi ekstra-kurikuler ya di SMP ini. Jadi, si Bung membantu saya untuk mengatasi rasa minder bicara di depan umum.

Soekarno juga memberikan saya pelajaran, kalau masyarakat kita sesungguhnya tidak menyukai poligami. Dalam hal beragama, Soekarno sendiri mengakui kalau dirinya tidaklah setaat itu. Jangankan poligami, wong shalat saja bolong-bolong kok. Di saat akhir kekuasaannya, para penentangnya juga memakai isyu ini sebagai alat untuk menjatuhkannya. Ia diibaratkan raja yang gemar gaya hidup ala istana dengan haremnya.

Namun teladan yang saya pelajari benar-benar justru caranya memerintah negara. Meski terkesan keras apalagi senang mengenakan seragam militer, Soekarno sesungguhnya rapuh hati. Ia tidak tegaan terhadap lawan politiknya. Anda mungkin membantah karena ia pernah memenjarakan sejumlah tokoh dan membubarkan partai politik. Tapi ingatlah, saat ia melakukan itu, ia adalah diktator dalam periode Orde Lama (1959-1967). Di negara lain, diktator tidak sekedar memenjarakan lawan politiknya, tapi menghukum mati!

Sikap lemah hati ini paling tampak saat masa krisis 1966, dimana ia justru menolak membubarkan PKI. Suatu sikap yang justru jadi bumerang baginya. Ia juga menolak melawan Soeharto yang saat itu jelas-jelas sudah tampak itikadnya untuk merebut kekuasaan. Sementara, para pendukungnya sudah gemas menunggu komando dari pimpinan tertingginya. Tapi komando itu tak kunjung datang. Padahal, secara militer kekuatan pendukung Soeharto lebih kecil dari pendukung Soekarno. Hanya keraguan Soekarno yang membuat Soeharto bisa bergerak lebih cepat dan melumpuhkan lawannya yang lebih besar.

Ia juga kurang memahami persoalan ekonomi dan agak malas belajar hal baru. Antisipasinya terhadap keadaan yang berubah juga kurang. Semenjak naik sebagai Presiden dari negara baru yang dimerdekakannya, ia tidak sadar bahwa tuntutan rakyat berubah. Rakyat butuh makan, bukan revolusi yang tak kunjung selesai. Toh sikap konfrontatif ini sangat berguna dalam menghadapi musuh dari pihak luar. Misalnya ia berani bersikap keras terhadap negara lain yang dianggapnya merongrong Indonesia. Tercatat dua kali ia memerintahkan operasi militer besar melawan kekuatan asing: Trikora untuk merebut Irian Barat dan Dwikora untuk menggagalkan pembentukan Federasi Malaysia oleh Inggris. Yang pertama relatif berhasil, yang kedua digagalkan oleh pengkhianatan sejumlah personel dalam tubuh TNI yang condong pada Soeharto. Sikap ini yang kurang dimiliki pemimpin saat ini. Menghadapi negara tetangga kita yang berkali-kali menghina kedaulatan dan kehormatan bangsa saja pendekatannya sangatlah diplomatis dan terkesan lembek.

Sikap yang bertentangan ini diklaim olehnya sendiri karena ia berbintang Gemini. Katanya, itu wujud kekembaran. Makanya sikap dan sifatnya bisa bertolak belakang. Tapi bagi praktisi psikologi, itu sebenarnya adalah wujud dari karakter bipolar. Dan itu memang sulit dipahami. Menurut pengamatan saya, hampir semua pemimpin besar dunia dan orang suci utusan Tuhan itu bipolar sempurna (maaf bila tak sependapat). Saya sendiri juga bipolar. Ini adalah kelainan psikologis yang membuat orang bisa bertindak pada kutub-kutubnya. Ia bisa amat lembut berbuat kebaikan, tapi juga bisa tega dan keras saat menghukum kesalahan. Ini masalah kejiwaan, yang bila dioptimalkan akan sangat berguna. Tapi bila gagal, ya bisa konflik sendiri di dalam batinnya dan bukan tidak mungkin berakhir di rumah sakit jiwa.

Jadi, meski saya bisa dikategorikan pengagum Soekarno, tapi saya bukanlah pengikut beliau seperti ayah saya. Karena saya melihat beliau dari berbagai sisi. Dan di situlah saya melihat sisi-sisi yang tidak perlu diteladani. Karena kalau pengikut, sudah pasti prinsipnya “pejah gesang nderek Bung Karno”. Saya? Ya nggak lah… masak ya nggak dong! It’s my life getoo lhoh! Ngapain juga mati hidup ikut orang lain? Ya nggak?

(Bhayu M.H.)

March 25th, 2009 | Author: bhayu

Membaca riwayat hidup tokoh ini, segera saya menyadari bahwa ia telah mampu menembus batas-batas fisik manusia. Prestasinya luar biasa dan terukir abadi sebagai salah seorang petualang dan penjelajah terhebat yang pernah ada. Ia adalah Indiana Jones di dunia nyata. Dan saya jadi ingat lagi keterbatasan saya: masalah fisik. Meski dianugerahi tubuh yang bisa dibilang proporsional bahkan tinggi-tegap, kekuatan fisik saya jelas tak ada seperseribunya Fiennes.

Ya, karena lelaki inilah yang bersama rekan setimnya Oliver Shepard dan Charlie Burton sebagai manusia pertama yang mengelilingi bumi melewati kedua kutubnya. Perjalanan amat berat sejauh 110.000 mil atau sekitar 200.000 km untuk menuju tempat dengan kondisi paling ekstrem. Disebut ekstrem karena dalam kondisi ‘normal’ saja suhu di wilayah kutub mencapai -50 o C (minus lima puluh derajat Celcius. Sekadar bandingan, suhu rata-rata di Indonesia adalah 30 oC. Tentu Anda masih ingat pelajaran fisika dasar bahwa air membeku pada suhu 0 oC. Akan tetapi, itu belum seberapa. Karena apabila terjadi badai yang biasanya disertai angin kencang, suhu di kutub bisa drop hingga -84o C bahkan lebih.

Belum lagi di kutub selatan matahari sering tidak muncul. Harap diingat kalau di ‘bagian bawah’ planet Bumi itu kerap rotasi bumi terjadi dalam posisi miring menjauhi matarahi. Tentu kondisi itu memperparah iklim di sana. Karena itulah di kutub selatan tidak ada satu pun manusia yang tinggal. Sementara di kutub utara masih ada suku Eskimo yang mendiami wilayah paling ‘brrr’ di bumi itu.

Sebelum memulai ekspedisi, mereka lebih dulu menggalang dana selama tujuh tahun. Di saat itulah Ralph dan rekan-rekannya berlatih di gunung es Greenland yang dianggap mirip. Setelah berlatih di tahun 1976, tahun berikutnya ia bersama lima rekan termasuk istrinya sempat mencoba melakukan ekspedisi ke kutub Utara, namun gagal. Sampai akhir tahun 1977, Fiennes akhirnya berhasil mengumpulkan 1.500 sponsor dengan peralatan seberat 60 ton untuk ekspedisi besar tersebut. Direncanakan ekspedisi akan dimulai tahun 1979 dengan 30 orang anggota tim.

Di sore hari tanggal 2 September 1979, rombongan tersebut dilepas oleh Pangeran Charles. Rombongan tersebut menaiki kapal Benjamin Bowring dan berangkat dari pelabuhan Greenwich. Karena dipimpin oleh Fiennes yang warga negara Inggris, maka Pangeran Charles berkenan melepas karena bagaimanapun nantinya mereka membawa nama Inggris. Selain melalui jalan laut, tim inti justru mengambil jalan darat menggunakan tiga unit jeep Land Rover melalui rute melintasi Eropa hingga sampai ke Gurun Sahara dan berujung di Afrika Barat.

Begitu mencapai Spanyol, dua rombongan itu akan bergabung lantas menaiki kapal ke Aljazair. Lantas menempuh jalan darat lagi hingga Pantai Gading. Di sana, rombongan sudah ditunggu kapal dan diantarkan ke Cape Town. Perjalanan terus dilakukan hingga menuju Antartika.

Di tanggal 4 Januari 1980, kapal mencapai areal kutub. Akan tetapi, belum dapat sampai ke titik selatan kutub. Malah, 3 orang anggota ekspedisi tumbang dalam 11 hari pertama dan harus ditarik mundur. Rombongan yang tersisa harus bertahan melawan dinginnya cuaca. Shelter atau camp dibuat dengan cara melubangi perbukitan es. Ini karenat tenda biasa akan hancur diterjang angin kencang.

Bulan demi bulan dilalui tanpa perbaikan kondisi cuaca. Rombongan bertahan dalam lubang di bukit es yang digali selama dua bulan dengan panjang hanya sekitar 125 meter saja. Barulah di bulan Oktober matahari muncul dan bersinar, menandakan perubahan cuaca. Sejak sampai di kawasan Antartika pada bulan Januari, ekspedisi baru berhasil menjejakkan kaki sepenuhnya di Kutub Selatan pada 15 Desember 1980.

Setelah berhasil mencapai tujuan pertamanya, pada 23 Desember 1980 rombongan segera bertolak ke Utara, menuju Kutub Utara. Rute yang dipakai melalui Selandia Baru, melewati Sydney di Australia, lalu langsung ke Los Angeles di Amerika Serikat. Tak berhenti, rombongan meneruskan hingga ke Vancouver di Kanada, dimana di sinilah terletak perbatasan dengan Alaska. Memasuki kawasan kutub Utara, rombongan ekspedisi menyusuri sungai Yukon mencapai Samudera Arktik. Dalam perjalanan ini, tim Fiennes sempat bertamu ke pemukiman bangsa Eskimo di Tuktoyaktuk pada 24 Juli 1981.

Tepat pada hari ke-750 ekspedisi besar itu dilangsungkan, yaitu tanggal 26 September 1981, Fiennes menjadi ragu akan keberhasilan misi mereka. Apalagi ia pernah gagal mencapai kutub Utara di tahun 1977. Pertolongan datang di saat tepat berupa kedatangan istrinya Ginnie atau Virginia. Pangeran Charles juga mengontak melalui radio dan memberikan semangat. Putra mahkota kerajaan Inggris itu sekaligus juga memberitahukan ada rombongan ekspedisi Norwegia yang sedang menyusul tim Inggris tersebut. Ekspedisi Norwegia dipimpin oleh Erling Kagge, ‘musuh bebuyutan’ Fiennes yang berambisi menjadi orang pertama yang sampai ke kutub Utara tanpa bantuan. Pengertian tanpa bantuan di sini adalah tanpa sokongan atau supply bahan pendukung dari dunia luar selain yang dibawa oleh tim.

Rombongan ekspedisi Fiennes harus berjuang menembus medan es yang membeku hingga kapal yang mereka gunakan tak mampu lagi berlayar lebih jauh karena kepadatan es tak terpecahkan. Tiga orang anggota tim inti (Fiennes, Shepard dan Burton) kemudian turun dari kapal pada 13 Februari 1982 dan meneruskan perjalanan dengan mobil khusus es dan berjalan kaki. Barulah pada tanggal 10 April 1982 ketiga orang itu berhasil mencapai kutub Utara, tepat pada pukul 23.30 GMT (Greenwich Meridien Time). Maka, tercapailah rekor baru atas nama ketiganya.

Setelah berkemas, keseluruhan anggota tim kembali mendarat di pelabuhan Greenwich pada 29 Agustus 1982. Mereka disambut oleh Pangeran Charles. Di kemudian hari mereka bertiga akan dianugerahi “Medali Kutub” oleh Ratu Elizabeth II sekaligus diangkat sebagai bangsawan kehormatan dan berhak memakai gelar “OBE (Order of the British Empire).

Fiennes masih akan melakukan beberapa ekspedisi lagi pasca keberhasilannya itu, walau secara resmi ia menyatakan pensiun pada 1983. Hal itu karena usai ekspedisi besar tersebut ternyata ia berhutang lebih dari 23.000 pound atau sekitar Rp 300 juta. Meski mendapatkan ketenaran, namun secara material ia tidak mendapatkan apa-apa.

Maka, ketika ada milyarder Inggris Dr. Armand Hammer menawarinya pekerjaan, dengan segera Fiennes menyambarnya. Karir di perusahaan tersebut membawanya menjadi Wakil Presiden Hubungan Masyarakat di Occidental Petroleum Corporation, perusahaan milik Hammer. Walau sudah menjadi eksekutif, toh ia masih sempat pula menjelajah tempat-tempat yang tak mampu dijangkau manusia lain. Seperti di tahun 1992 saat ia kembali ke kutub Selatan bersama Dr. Mike Stroud. Kini, ia menjadi motivator dan telah menulis sejumlah buku laris berdasarkan petualangannya.

Bagi saya, keberhasilannya menjelajahi alam liar bukan sekedar menaklukkan alam belaka, tapi ia berhasil menaklukkan batas-batas manusia. Ia telah membuktikan dirinya melampaui ambang kemampuan manusia lain. Dan itu membuatnya layak dijadikan tokoh inspiratif.

Bhayu M.H.

Sumber Foto: Royal Geographical Society