Sunday, March 29th, 2009 | Author: bhayu

Film ini menginspirasi saya begitu rupa. Selain itu film ini dipilih karena kesesuaian dengan tema posting seri pertama, yaitu tentang menaklukkan batas-batas kemanusiaan dengan bertualang di alam. Film besutan sutradara Martin Campbell di tahun 2000 ini niscaya membuat siapa pun yang sempat menonton di bioskop turut menggigil. Tak heran, sepanjang film penonton disuguhi perjuangan berbagai kelompok pendaki gunung dari berbagai kebangsaan untuk mendaki K-2 di Pakistan. Gunung ini adalah puncak kedua tertinggi di dunia setelah gunung Everest.

Tokoh utama film ini memang Peter Garret yang diperankan Chris O’Donnell, namun justru pertemuannya dengan para pendaki gunung lain saat sedang berupaya mendaki itulah yang lebih seru. Apalagi saat terjadi badai dan kecelakaan, tiap orang yang berada di sana berusaha saling menyelamatkan. Tim yang dipimpin Peter Garret terpencar karena badai salju, sehingga ia segera membentuk tim penyelamat yang terdiri dari seluruh pendaki yang masih ada di base camp di kaki gunung. Dan upaya pertolongan tanpa pamrih tanpa mengenal batas kebangsaan dan agama sangat mengharukan.

Juga ada pelajaran mengenai kerjasama tim. Terutama saat ada anggota tim yang harus dikorbankan demi menyelamatkan yang lain. Pemahaman mengenai hal ini sangat penting bagi kita yang bekerja, karena pencapaian tujuan tim adalah yang utama. Tujuan yang telah ditetapkan bersama merupakan komitmen sehingga setiap anggota tim harus rela memberikan yang terbaik bagi pencapaiannya.

Bagi saya yang muslim, adegan saat Kareem Nazir dan Malcolm melakukan shalat di tengah salju yang menghampar membuat hati saya tergetar. Memuji kebesaran Illahi. Saya lantas teringat saat beberapa kali dulu berkesempatan mendaki gunung dan melaksanakan shalat shubuh sendirian saat yang lain masih tertidur, nikmatnya tiada tara. Meski tubuh menggigil kedinginan, apalagi saya shalat di bawah air terjun, tapi perasaan kecil di hadapan alam saja membuat udara dingin jadi tak berarti. Apalagi perasaan sedang menghadap Tuhan yang menguasai alam membuat segala kesombongan diri menjadi luluh. Dan tentunya tekad untuk menjadi lebih baik sepulangnya dari pendakian, telah membuat kita menjadi manusia yang berbeda.

Bhayu M.H.

You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.
Leave a Reply

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>