Wednesday, April 08th, 2009 | Author: bhayu

Saya sudah membaca buku-buku karya Soekarno maupun karya penulis lain tentang dirinya semenjak masih belia. Di Bawah Bendera Revolusi saya baca saat masih kelas 5 SD. Tapi ya namanya anak kecil, bacanya lompat-lompat dan jelas tidak tuntas. Saya bukanlah manusia super yang serba hebat. Alamiah saja. Buku seberat itu tentu bukan konsumsi anak ingusan berusia 10-11 tahun seperti saya waktu itu. Tapi saya membaca tuntas sejumlah buku tulisan orang lain tentang si Bung. Satu yang saya ingat adalah karya John D. Legge. Tentu karena bahasanya yang lebih ringan.

Akan tetapi buku yang berhubungan dengan Bung Karno yang paling berkesan bagi saya adalah karya Cindy Adams: Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia. Wartawati asal Amerika Serikat itu berhasil mengungkap sisi-sisi Presiden Pertama R.I. itu yang belum pernah atau jarang diketahui umum. Misalnya saja kisah percintaannya maupun kebiasaan sehari-harinya.

Dari buku itulah saya bisa melihat si Bung yang dipuja banyak orang tapi juga dicaci musuh-musuhnya sebagai manusia biasa. Di balik seragam kebesaran Panglima Tertinggi berbintang limanya, Soekarno tetaplah manusia biasa. Manusia yang tidak cuma punya obsesi tinggi membuat negeri baru bernama Indonesia berdiri sejajar sama tinggi dengan bangsa-bangsa lain di dunia, tapi juga punya obsesi besar kepada wanita cantik. Bung Karno yang gemar tampil necis di depan umum, tapi ternyata cuma memakai kaos oblong bolong dipadu sarung saat di rumah.

Jika mengingat teori post-modern yang dilontarkan filsuf seperti Baudrillard, saya lantas mengaitkan Bung Karno asli dengan citraan. Banyak orang lebih mengenal citraannya, atau dalam istilah Baudrillard adalah simulacrum-nya. Entah si pemilik citraan sengaja atau tidak, tapi efek dari penciptaan citraan kerapkali bergulir cepat bak bola salju di luar kendali pemilik atau penciptanya. Citra Bung Karno yang flamboyant dan kerap easy going sehingga terkesan meremehkan banyak hal, berbalik menjadi negatif saat diserang musuh-musuhnya. Di tahun 1965, saat ia digoyang oleh kekuatan yang kelak dikenal sebagai Angkatan ’66 yang berhasil mendirikan Orde Baru, kegemarannya akan wanita lantas menjadi identik dengan sikap tidak bertanggung-jawab dan suka buang-buang uang. Padahal, Soekarno justru presiden paling miskin dalam sejarah Indonesia. Saat Soeharto dan timnya melakukan pendataan kekayaan presiden digulingkannya itu di tahun 1967-1968, mereka tidak menemukan apa pun. Kekayaan Soekarno cuma sebatas gajinya saja, yang tentu habis untuk keperluan sehari-hari. Semua benda-benda seni yang dibelinya disumbangkan kepada negara. Bahkan ia tidak punya mobil pribadi. Sehari-hari semasa berkuasa, ia memang banyak disumbang dan dibantu sahabat-sahabatnya yang pengusaha seperti Dasa’ad atau Djunaedi.

Citra yang kerap lebih diyakini dan dikenal masyarakat itulah yang diserang. Tidak peduli aslinya tidak begitu, asal citraannya rusak, maka dianggap secara keseluruhan pribadinya sudah rusak pula. Di akhir masa pemerintahannya, Soekarno gagal memperbaiki citranya. Hal itu mengalahkan kelogisan dan fakta nyata.

Kalau kita membaca pidato Nawaksara dan Pelengkap Nawaksara yang disampaikannya kepada MPRS pasca peristiwa 1 Oktober 1965, sebenarnya isinya sudah menjawab persoalan. Sebagai Presiden, ia sudah mempertanggung-jawabkan kejadian yang bahkan sebenarnya bukanlah tanggung-jawabnya itu. Tapi ia terlambat. Musuh-musuhnya sudah bergerak. Anggota MPRS di tahun 1967 yang menyelenggarakan Sidang Istimewa untuk meminta pertanggungjawaban Soekarno itu sudah bukan lagi anggota yang sama dengan hasil Dekrit 1959, melainkan sudah diganti oleh Soeharto sebagai Pengemban Tap MPRS No. XII/1966. Ketetapan MPRS ini mengukuhkan Supersemar sebagai hukum negara. Maka, citra Bung Karno yang sudah rusak diperparah dengan penolakan pidato pertanggungjawabannya yang memaksanya mundur dari tampuk kepresidenan.

Dalam buku Cindy Adams yang dibuat sebelum peristiwa 1965 itu, masih tampak citra yang ingin dibangun Soekarno sebagai pembela rakyat. Tak heran dalam buku tersebut impian dan cita-cita Soekarno untuk menjadi seseorang yang diingat bangsanya dengan baik masih tergambar jelas. Ia sendiri mencoba menceritakan riwayat hidupnya kepada Cindy Adams selaku penulis biografinya. Dengan begitu, ia berupaya membangun citra dirinya. Akan tetapi, Cindy Adams selaku wartawati berpengalaman pun merekam sendiri citranya tentang Bung Karno. Maka, perpaduan dua pandangan inilah yang kemudian membentuk citra diri yang nyaris mendekati aslinya. Mengambil istilah Gadamer, kondisi ini disebut fusi horizon. Meski agak berbeda karena dalam teorema aslinya fusi horizon adalah antara horizon pembaca dan pengarang. Sementara bagi buku Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia ini fusi horizonnya adalah antara penulis biografi dan tokoh yang ditulis biografinya. Keunikan itulah yang membuat saya menyukai buku ini.

(Bhayu M.H.)

You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.
One Response
  1. Ternyata kita sama-sama pengagum Bung Karno. Namun demikian aku selalu meletakkan Bung Karno dalam posisi yang sewajarnya.
    Senang bertemu teman yang sepaham.
    Ayo mampir di warungku : http://soekarnofiles.wordpress.com
    Aku mengkoleksi foto-foto Soekarno, mudah-mudahan kita bisa saling tukar informasi.

    Salam: Tony Mardianto

Leave a Reply

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>