Saya adalah orang biasa yang bangga dengan Indonesia dan ke-Indonesia-annya. Diberi nama Bhayu Mahendra H. sewaktu lahir di Jakarta tanggal 7 Februari (maaf tahun saya sembunyikan karena resiko keamanan), saya dibesarkan dalam kondisi yang penuh perjuangan. Orangtua saya yang pekerja keras membuat mereka mendidik saya dengan cukup keras. Terlahir dari ayah yang Soekarnois dan kenal dekat dengan keluarga si Bung Besar, serta dari ibu yang termasuk korps jaket kuning saat demonstrasi mahasiswa 1966, saya tumbuh besar menjadi pribadi yang mencintai organisasi. Perbedaan posisi di masa peralihan Orde Lama ke Orde Baru bagi kedua orangtua saya saja tidak menghalangi mereka menikah, sehingga alam perbedaan pendapat dan iklim berorganisasi memang kental di keluarga saya. Ini berakibat sebagian besar orang yang pernah bertemu saya mengira saya adalah anak sulung. Padahal, saya adalah anak tunggal. Tentunya, hal itu karena kepribadian saya dan jiwa kepemimpinan yang ditumbuhkan oleh lingkungan organisasi.
Dari sekedar jadi Ketua Kelas ketika SD, Ketua PKS (Patroli Keamanan Sekolah) sewaktu SMP dan SMA, Paskibraka (Pasukan Pengibar Bendera Pusaka) dan Ketua MPK (Majelis Permusyawaratan Kelas) saat SMA, hingga termasuk dalam Presidium Ketua KA-KBUI (Kesatuan Aksi-Keluarga Besar Universitas Indonesia) saat Gerakan Reformasi 1998 sekaligus Pemimpin Umum Suara Mahasiswa UI dan Pemimpin Redaksi harian bergerak! sewaktu berkuliah (Kiprah bergerak! dalam gerakan reformasi 1998 telah dijadikan tesis oleh Satrio Arismunandar di kajian Ketahanan Nasional Universitas Indonesia. Tesis ini juga telah dijadikan buku. Untuk kutipan yang memuat nama saya, klik di sini), telah membawa saya mengarungi dunia penuh warna. Warna merah amis pengkhianatan tanpa perasaan hingga warna kuning menyilaukan pendewaan berlebihan pernah saya rasakan. Semua itu tidak membunuh saya, cuma membuat saya makin kuat, begitu kata Friedrich Nietzsche.
Sebagai filsuf yang karyanya saya jadikan kajian skripsi di jurusan filsafat Universitas Indonesia, pemikiran filsuf Jerman yang mempengaruhi banyak orang ini juga mempengaruhi saya. Kondisinya sedikit banyak ada persamaan dengan saya: seringkali dilecehkan orang dan dianggap tidak penting. Sebagai contoh kontradiktif adalah saat buku Das Kapital karya Karl Marx laku keras di pasar, buku karya Nietzsche justru cuma ‘laku’ tujuh buah saja. Itu pun ada yang dibagikan gratis kepada teman-temannya. Keterkucilan itu membuat kondisi mentalnya menurun. Dan itulah yang pasti saya hindari dari akhir tragis hidupnya: menjadi gila.
Di zaman teknologi informasi ini, syukurnya banyak sarana menghindarkan diri dari keterkucilan yang bisa berakibat kegilaan. Banyak dibentuk komunitas terbuka yang mudah dimasuki. Juga sarana internet di era web 2.0 yang membuat social networking site menjamur. Sehingga, interaksi dengan orang lain lebih mudah. Sesungguhnya mengeluarkan pikiran merupakan sarana agar diri merasa eksis di tengah hingar-bingar ketidakpedulian lebih dari 5 milyar manusia di planet yang menua ini.
Dengan mengambil semangat untuk hidup yang digelorakan Nietzsche, saya terus melangkah, bahkan berlari mengarungi hidup. Walau kerap dilecehkan dan tak jarang membuat saya menangis atau malah mengamuk, tapi saya terus berupaya sebisanya menjadi “ubermensch” dalam hidup. Kadang terengah, kadang terjatuh, tapi saya tak akan berhenti sampai nafas ini habis. Menulis blog ini hanya satu upaya saya agar terus mewarnai hidup saya.
Bagi saya, dunia tulis-menulis bukanlah hal baru. Semenjak SMA saya menjadi Pemimpin Redaksi buku tahunan sekolah dan Paskibra, saya sudah terbiasa menulis. Hal itu dilanjutkan dengan mengikuti pers kampus saat kuliah. Demikian pula saat bekerja, saya terjun ke dunia jurnalistik. Diawali dengan menjadi koresponden, lalu naik menjadi wartawan cum fotografer dan terakhir menjabat sebagai Redaktur penanggungjawab rubrik –biasa disebut jabrik- di Tabloid Swadesi. Ini adalah tabloid politik yang saat itu cukup terkenal, bahkan oplahnya sempat mencapai 220 ribu di tahun 1992-1993. Ketiga terbesar di Indonesia di kelas media mingguan. Saat di tabloid inilah saya ditempa melakukan berbagai peliputan termasuk di DPR dan Istana Negara. Saya bertemu banyak orang penting termasuk menteri dan pejabat negara lainnya. Saya bahkan pernah memotret Presiden Soeharto dari jarak cuma sekitar setengah meter saja. Dan yang paling monumental adalah saat meliput Kudatuli (Kerusuhan 27 Juli 1996), sekaligus menciptakan istilah tersebut yang terus dipakai berbagai kalangan hingga kini (baca di sini). Saya sempat cedera terkena lemparan batu dari aparat –bukan demonstran- saat memotret, meski tidak parah. Sayangnya, tabloid ini harus tutup karena terhantam badai krisis moneter 1997, meski secara resmi baru dinyatakan tutup tahun 1999.
Sejak itu, saya bekerja mengelola berbagai penerbitan media internal milik berbagai perusahaan. Saya sempat bekerja untuk Lippo Karawaci, Lippo Bukit Sentul, Lippo Cikarang, dan Primelink. Di tempat terakhir ini karena merupakan sebuah agen properti, saya juga bertindak sebagai marketing executive. Selama bekerja tadi, saya belum menyelesaikan satu pun kuliah saya.
Tak lama setelah lulus kuliah dari Universitas Indonesia (UI), saya bergabung dengan G-2 Communication dan didapuk jadi Marketing Support Division Manager. Yang ini agak berbau nepotisme karena General Manager-nya teman SMP-SMA saya. Jadi, saya masuk dengan jalan melakukan ‘lobby’ kepadanya. Saya tidak lama di sini karena ada perbedaan prinsip cara kerja dengan rekan saya tersebut.
Hampir bersamaan dengan masuknya saya di dunia periklanan, saya sebelumnya juga sudah masuk kembali ke dunia jurnalistik dengan melamar kerja di group Femina. Saya pun diterima sebagai redaktur di majalah Men’s Health Indonesia (MHI). Ini adalah majalah internasional yang franchisenya berasal dari A.S. Di majalah ini saya memiliki kenangan manis, karena sempat menjuarai lomba penulisan dengan tema emotional intelligence yang diadakan oleh Nestle dan Fakultas Psikologi UI. Di sini pula saya dipercaya memegang cukup banyak rubrik, kalau tidak salah ingat 8 rubrik. Mulai dari psikologi dengan sejumlah cabang, finance, hingga advertorial. Namun yang paling saya sukai adalah rubrik “Jelajah”. Selain namanya saya usulkan sendiri, rubrik itu baru diadakan saat saya masuk dan saya langsung dijadikan penanggungjawabnya. Konsepnya mirip dengan “Archipelago” di Metro TV atau “Jejak Petualang” di TV7/Trans7. Dengan mengampu rubrik itu, saya jadi banyak berkelana ke tempat-tempat unik.
Sewaktu bekerja di MHI inilah saya mendapatkan kesempatan bergabung dengan salah satu tim sukses Susilo Bambang Yudhoyono untuk Pemilu Presiden 2004. Melalui surat lamaran, tanpa nepotisme, saya diterima sebagai anggota tim Blora Institute. Dan saya kemudian dipercaya menjadi Pemimpin Redaksi Tabloid Suksesi. Sayangnya, setelah masa persiapan selama tiga bulan, tabloid ini dibatalkan penerbitannya. Padahal saya sudah pontang-panting mengatur waktu bekerja di dua tempat. Ini mirip dengan saat kuliah, karena saya berkuliah sekaligus di tiga tempat.
Saya meninggalkan MHI karena mendapat tawaran dari majalah Terbang untuk menjadi Redaktur Pelaksana. Tapi ternyata, tak lama majalah itu tidak mampu meneruskan terbit. Jadi, saya pindah lagi ke dunia marketing. Kali ini saya menjadi Marketing & Promotion Manager di Giovanni Interior. Ini adalah sebuah perusahaan produsen furniture mewah. Setelah itu, perusahaan yang pernah mempekerjakan saya sebagai pengelola untuk media internal berbagai perusahaan dulu memanggil. Rupanya mereka hendak memperluas bisnis. Maka, saya pun diminta menjadi Marketing & Communication Manager. Seiring waktu berlalu, saya bahkan dipercaya menjadi partner di perusahaan tersebut. Kini, selain menjadi managing partner di tempat saya pernah bekerja itu, saya juga mendirikan usaha di bidang konsultan sumber daya manusia bernama Bahtera Jiwa Human Resources & Psikologi Consultant (http://www.bj-consultant.com). Toh kecintaan saya pada dunia komunikasi tidak hilang karena meski lebih penuh perjuangan, saya masih berupaya menggerakkan roda bisnis di bidang integrated marketing communication dengan bendera MU Komunika.
Saya juga berusaha agar dapat berperan dalam dunia sosial-kemasyarakatan dan berusaha berkontribusi bagi bangsa walau hanya sumbangsih pemikiran yang kecil. Ini antara lain saya wujudkan pada saat mahasiswa dengan aktif di organisasi ekstra kampus yaitu Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dan Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI). Hanya saja saya tidak sampai pucuk pimpinan karena lebih memilih aktif di organisasi intra kampus. Di asosiasi profesi, saya pernah menjadi anggota muda Persatuan Wartawan Indonesia (PWI). Dalam dunia politik, di masa Orde Baru pada usia 22 tahun saya sempat menjadi calon legislatif termuda untuk DPR-RI dari salah satu Partai Politik peserta Pemilu 1997. Di masa Orde Baru menjadi caleg tidak mudah, walau saya harus jujur hal itu bisa terjadi karena bapak saya adalah Ketua DPP di Partai Politik tersebut. Toh tetap saja saya harus melewati screening atau istilah resminya “litsus” -kependekan dari penelitian khusus- oleh BAKIN (Badan Koordinasi Intelijen Negara). Alhamdulillah saya lolos dan dianggap tidak berbahaya bagi negara
. Seusai tercantum dalam DCT, saya juga sempat berkampanye di daerah pemilihan saya: Jawa Timur. Saat itu saya sendirian tanpa ditemani kerabat bergabung bersama rombongan Ketua Umum DPP partai. Sebuah pengalaman yang mendewasakan saya.
Selain menjadi caleg di tahun 1997, saya juga sempat terlibat sebagai “sekrup kecil” dari Tim Sukses SBY dalam Pemilu Presiden (Pilpres) 2004 seperti telah saya sebut di atas. Sementara pada Pilpres 2009, saya dipercaya sebagai Kepala Sekertariat Chemistry Media Centre (CMC) Jusuf Kalla-Wiranto, sekaligus sebagai Web Master dari blog resmi pasangan calon presiden-wakil presiden JK-Win. Dalam struktur Tim Kampanye Nasional, saya merupakan bagian dari tim Humas & Juru Bicara pasangan tersebut.
Sementara dalam dunia pemikiran, saat ini saya merupakan Direktur Eksekutif Forum Ilmu Kajian Islam Rasional (FIKIR) dan Koordinator Utama Kelompok Kajian Mentari Pemikiran (KKMP). Agar dapat berinteraksi dengan rekan-rekan pengusaha, saya juga bergabung dalam sejumlah komunitas berbasiskan mailing-list, dimana saya juga menjadi owner dari mailing-list usahawan-indonesia@yahoogroups.com. Saya mengajak Anda usahawan dan calon pebisnis untuk turut bergabung di milis tersebut.
Oh ya, saya juga sempat menjadi dosen di dua PTS pada waktu berbeda. Akan tetapi saya menjalaninya tidak lama karena kurangnya penghargaan dari pihak kampus. Jadi, saya memutuskan membaktikan ilmu saya dengan cara lain saja.
Dengan semua pengalaman itu, saya berharap Anda berkenan berbagi dengan saya. Bagaimanapun, saya toh manusia biasa. Masih ada langit di atas langit. Karena itu saya bukan hendak menjadi guru, melainkan teman belajar Anda semua. Melalui blog-site ini, saya meneruskan langkah hidup saya agar makin berwarna. Menambahinya dengan warna baru lagi, terus, dan terus, dan terus. Hingga kelak Tuhan membukakan pintu penuh warna pasca kehidupan saya usai.
Sukses, demi Indonesia Raya!
Bhayu M.H.


Recent Comments