Tag-Archive for » Bung Karno «

April 08th, 2009 | Author: bhayu

Orang yang baru kenal saya seringkali salah mengira, begitu mendengar atau mengetahui saya adalah Soekarnois, lantas menganggap saya adalah pendukung Megawati Soekarnoputri atau simpatisan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). Belum tentu. Kalau Anda jeli, dalam blog saya yang dihosting di wordpress.com yaitu http://www.lifeschool.wordpress.com, saya malah beberapa kali mengkritisi beliau dan partainya. Dan rasanya dari tulisan-tulisan tersebut jelas tidak menunjukkan kecenderungan afiliasi politik saya kepada keduanya. Walau ayah saya dulu pernah dekat dengan keluarga besar BK, bahkan Mega dan Taufik pernah beberapa kali bertamu ke rumah ayah saya sebagai seniornya di dekade 1970-an, hal itu tidak mempengaruhi independensi saya dalam memilih idola berdasarkan fakta.

Di sinilah saya hendak berbagi bagaimana menyaring fakta dan memilih idola. Tentu, ini subyektif cara saya yang terbiasa rasional dan memakai timbangan keadilan dari berbagai sudut pandang. Sehingga, ketika memutuskan untuk menyukai idola tertentu, hal itu sudah melalui sejumlah pertimbangan.

Dalam memandang idola beserta segala kelebihannya, pengidola terjebak pada fenomena hyper-realitas. Ini adalah istilah khas dari Jean Baudrillard, filsuf post-modernis asal Prancis. Kita hidup dalam realitas semu di ruang khayali yang bahkan citraannya melebihi realitas asli di dunia nyata. Dalam peristilahan Marshall McLuhan di buku klasiknya Understanding Media, The Extensions of Man (1964), teknologi terutama media telah membuat manusia memiliki perpanjangan atau ekstension. Sebagai ilmuwan yang pertama kali membahas mengenai fenomena hyper-realitas, Luhan di periode awal perkembangan computer tersebut telah mampu menengarai betapa nantinya perpanjangan manusia itu akan membawa kepada realitas yang bukan realitas. Walau begitu, berbeda dengan realitas yang kita lihat sekarang, dimana terjadi dehumanisasi sebagai ekses dari penggunaan teknologi, bagi Luhan teknologi masih dimungkinkan memiliki sisi humanis. Ekses dari hyper-realitas ini adalah munculnya aneka ragam idolatry yang di masa lalu tidak dimungkinkan. Kita tahu, ada aneka kontes yang menjanjikan pemenangnya untuk menjadi idola secara instant cuma dengan memenangkan sebanyak mungkin sms dari pemirsa. Walau secara teknis calon idola juga berusaha dengan tampil di atas panggung, akan tetapi pengidolaan semacam itu tidak dimungkinkan disaat teknologi dan media belum semaju sekarang.

Demikian pula halnya di dunia politik dan kenegaraan. Seorang yang memiliki citra sebagai tokoh yang berperan negatif dalam sejarah bangsa, melalui iklan atau jalur komunikasi lainnya dapat saja membentuk citra baru dirinya yang berbeda dan positif. Ini adalah realitas yang melampaui realitas. Citra baru itu adalah hyper-realitas. Dan masyarakat pemirsa karena tidak punya akses pada realitas aslinya, terpaksa menerima hyper-realitas itu sebagai realitas.

Di sinilah perbedaannya masyarakat yang ’terpaksa’ menerima hyper-realitas bentukan orang-orang yang membentuk dirinya sebagai idola dengan para pengidola yang secara ’sukarela’ bahkan ’fanatik’ menerima hyper-realitas sebagai pengganti realitas asli.

Bahkan, saat diberitahu bahwa citraannya tentang sang idola adalah hyper-realitas, bukan realitas asli, atau malah palsu, bisa jadi si pengidola malah mengamuk. Ia tidak terima karena citraan yang dibangunnya dalam alam khayalinya sendiri berupa gambaran mental dan pikiran tentang sang idola akan hancur. Ia lebih rela hidup dalam kepalsuan daripada harus menerima kenyataan bahwa sang idola tidaklah sesempurna citraan hyper-realitasnya.

Walau bisa diterima, namun pengidola macam ini jelas sudah masuk kategori penyandang penyakit kejiwaan. Dan idola yang merelakan diri bahkan sengaja membiarkan hyper-realitasnya melambung menutupi realitas aslinya juga sama sakit jiwanya. Mereka tidak mampu hidup di alam nyata.

Di sinilah saya lantas mengumpulkan fakta sebagai realitas asli dan asali, lantas membandingkannya dengan hyper-realitas yang dibentuk para idol. Fakta atau realitas sebenarnya suatu hal yang mudah dilihat dan diperhatikan. Akan tetapi, kerapkali memang fakta diciptakan oleh pihak-pihak yang saling berseteru. Akibatnya, tentu saja ada fakta yang bertolak-belakang. Dan tentu akhirnya akan terbukti adanya fakta palsu yang sengaja diciptakan untuk mengacaukan opini publik.

Di zaman peluberan informasi seperti ini, tidak semua informasi yang datang kepada kita adalah fakta. Bahkan, tidak semua fakta layak dipercaya. Ada pula fakta yang tidak teramati oleh semua orang. Ini jadi problema tersendiri dalam filsafat. Sebagai contoh, dalam suatu kasus pembunuhan dengan penembakan, biasanya polisi kesulitan mencari saksi karena keterangan mereka berbeda-beda. Bahkan untuk jumlah tembakan saja masing-masing saksi menyebutkan jumlah berbeda. Contoh paling terkenal dari hal ini adalah dibunuhnya Presiden ke-35 Amerika Serikat John Fitzgerald Kennedy. Dari kasus ini kemudian malah muncul hyper-realitas sendiri yang sengaja dicitrakan pihak tertentu.

Dari pengumpulan, pemilihan, dan pemilahan fakta inilah kita bisa menyaring mana yang hyper-realitas dan mana yang realitas asli-asali. Sayangnya, memang tidak semua orang punya kompetensi dan waktu melakukannya. Sehingga, kerapkali tahap ini diabaikan begitu rupa. Bagi saya, untuk mengambil seseorang atau sesuatu menjadi idola, perlu proses. Karena dari idola ini saya akan meneladani sesuatu dan menerapkannya dalam hidup saya.

Dan memang, penelusuran terhadap realitas itu ternyata hasil temuannya mengejutkan. Dan itulah mengapa saya memilih untuk mengidolakan Soekarno, tapi tidak anaknya. Saya tidak mau menuliskannya di sini fakta yang saya ketahui, karena nanti bisa dianggap ”black campaign”. Apalagi tulisan ini diturunkan menjelang Pemilu.

Intinya adalah, dalam mengambil sosok idola sebagai panutan, cobalah melihat dari berbagai sudut pandang. Bahkan sudut pandang musuh sekali pun. Ada adagium yang mengatakan, musuhmu adalah teman terbaikmu. Ya, karena musuh akan mendedikasikan hidupnya untuk mencari dan mengumumkan kelemahan kita. Kalau kita awas dan tidak panas hati, itu malah bisa dipakai untuk perbaikan kualitas diri.

Demikian pula dengan idola. Andai ada pihak lain yang tidak menyukai idola kita, dengarkan pendapatnya. Siapa tahu, ada unsur kebenaran di dalamnya, apalagi jika ia melambari pendapatnya dengan fakta. Akan sangat baik bila kita tetap hidup dalam realitas se-realitas-realitasnya. Bukan hyper-realitas yang dibentuk para idola yang pastinya serba sempurna tanpa kekurangan.

(Bhayu M.H.)

April 08th, 2009 | Author: bhayu

Saya sudah membaca buku-buku karya Soekarno maupun karya penulis lain tentang dirinya semenjak masih belia. Di Bawah Bendera Revolusi saya baca saat masih kelas 5 SD. Tapi ya namanya anak kecil, bacanya lompat-lompat dan jelas tidak tuntas. Saya bukanlah manusia super yang serba hebat. Alamiah saja. Buku seberat itu tentu bukan konsumsi anak ingusan berusia 10-11 tahun seperti saya waktu itu. Tapi saya membaca tuntas sejumlah buku tulisan orang lain tentang si Bung. Satu yang saya ingat adalah karya John D. Legge. Tentu karena bahasanya yang lebih ringan.

Akan tetapi buku yang berhubungan dengan Bung Karno yang paling berkesan bagi saya adalah karya Cindy Adams: Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia. Wartawati asal Amerika Serikat itu berhasil mengungkap sisi-sisi Presiden Pertama R.I. itu yang belum pernah atau jarang diketahui umum. Misalnya saja kisah percintaannya maupun kebiasaan sehari-harinya.

Dari buku itulah saya bisa melihat si Bung yang dipuja banyak orang tapi juga dicaci musuh-musuhnya sebagai manusia biasa. Di balik seragam kebesaran Panglima Tertinggi berbintang limanya, Soekarno tetaplah manusia biasa. Manusia yang tidak cuma punya obsesi tinggi membuat negeri baru bernama Indonesia berdiri sejajar sama tinggi dengan bangsa-bangsa lain di dunia, tapi juga punya obsesi besar kepada wanita cantik. Bung Karno yang gemar tampil necis di depan umum, tapi ternyata cuma memakai kaos oblong bolong dipadu sarung saat di rumah.

Jika mengingat teori post-modern yang dilontarkan filsuf seperti Baudrillard, saya lantas mengaitkan Bung Karno asli dengan citraan. Banyak orang lebih mengenal citraannya, atau dalam istilah Baudrillard adalah simulacrum-nya. Entah si pemilik citraan sengaja atau tidak, tapi efek dari penciptaan citraan kerapkali bergulir cepat bak bola salju di luar kendali pemilik atau penciptanya. Citra Bung Karno yang flamboyant dan kerap easy going sehingga terkesan meremehkan banyak hal, berbalik menjadi negatif saat diserang musuh-musuhnya. Di tahun 1965, saat ia digoyang oleh kekuatan yang kelak dikenal sebagai Angkatan ’66 yang berhasil mendirikan Orde Baru, kegemarannya akan wanita lantas menjadi identik dengan sikap tidak bertanggung-jawab dan suka buang-buang uang. Padahal, Soekarno justru presiden paling miskin dalam sejarah Indonesia. Saat Soeharto dan timnya melakukan pendataan kekayaan presiden digulingkannya itu di tahun 1967-1968, mereka tidak menemukan apa pun. Kekayaan Soekarno cuma sebatas gajinya saja, yang tentu habis untuk keperluan sehari-hari. Semua benda-benda seni yang dibelinya disumbangkan kepada negara. Bahkan ia tidak punya mobil pribadi. Sehari-hari semasa berkuasa, ia memang banyak disumbang dan dibantu sahabat-sahabatnya yang pengusaha seperti Dasa’ad atau Djunaedi.

Citra yang kerap lebih diyakini dan dikenal masyarakat itulah yang diserang. Tidak peduli aslinya tidak begitu, asal citraannya rusak, maka dianggap secara keseluruhan pribadinya sudah rusak pula. Di akhir masa pemerintahannya, Soekarno gagal memperbaiki citranya. Hal itu mengalahkan kelogisan dan fakta nyata.

Kalau kita membaca pidato Nawaksara dan Pelengkap Nawaksara yang disampaikannya kepada MPRS pasca peristiwa 1 Oktober 1965, sebenarnya isinya sudah menjawab persoalan. Sebagai Presiden, ia sudah mempertanggung-jawabkan kejadian yang bahkan sebenarnya bukanlah tanggung-jawabnya itu. Tapi ia terlambat. Musuh-musuhnya sudah bergerak. Anggota MPRS di tahun 1967 yang menyelenggarakan Sidang Istimewa untuk meminta pertanggungjawaban Soekarno itu sudah bukan lagi anggota yang sama dengan hasil Dekrit 1959, melainkan sudah diganti oleh Soeharto sebagai Pengemban Tap MPRS No. XII/1966. Ketetapan MPRS ini mengukuhkan Supersemar sebagai hukum negara. Maka, citra Bung Karno yang sudah rusak diperparah dengan penolakan pidato pertanggungjawabannya yang memaksanya mundur dari tampuk kepresidenan.

Dalam buku Cindy Adams yang dibuat sebelum peristiwa 1965 itu, masih tampak citra yang ingin dibangun Soekarno sebagai pembela rakyat. Tak heran dalam buku tersebut impian dan cita-cita Soekarno untuk menjadi seseorang yang diingat bangsanya dengan baik masih tergambar jelas. Ia sendiri mencoba menceritakan riwayat hidupnya kepada Cindy Adams selaku penulis biografinya. Dengan begitu, ia berupaya membangun citra dirinya. Akan tetapi, Cindy Adams selaku wartawati berpengalaman pun merekam sendiri citranya tentang Bung Karno. Maka, perpaduan dua pandangan inilah yang kemudian membentuk citra diri yang nyaris mendekati aslinya. Mengambil istilah Gadamer, kondisi ini disebut fusi horizon. Meski agak berbeda karena dalam teorema aslinya fusi horizon adalah antara horizon pembaca dan pengarang. Sementara bagi buku Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia ini fusi horizonnya adalah antara penulis biografi dan tokoh yang ditulis biografinya. Keunikan itulah yang membuat saya menyukai buku ini.

(Bhayu M.H.)

April 06th, 2009 | Author: bhayu

Rasanya saya tak perlu menceritakan ulang riwayat hidup tokoh inspiratif kita kali ini. Karena tentu saja sebagai rakyat Indonesia, banyak sumber yang bisa dirujuk untuk tahu riwayat hidupnya. Di sini saya justru hendak menceritakan teladan apa yang saya ambil dari beliau.

Terus terang, sebagai seorang anak tunggal, tentu frekuensi saya bicara dengan orang lain di rumah tidak sebanyak anak non tunggal yang punya adik dan/atau kakak. Apalagi dulu ayah saya cukup sibuk dan ibu saya pun relatif tidak banyak bicara. Maka, menjadi sebuah ketakutan tersendiri bagi saya saat di kelas 4 SD wali kelas saya mengikutsertakan saya dalam sebuah lomba khotbah. Saya kaget. Memang, saat itu saya juara umum dalam prestasi akademik di sekolah. Tapi bukan berarti lantas saya juga jago ngomong. Saya pun panik memikirkan lomba itu. Tapi dasar saya yang doyan belajar, maka saya pun membeli sebuah buku. Judulnya Teknik Berpidato dan Memukau Massa. Di situ ada penjelasan tentang bagaimana berpidato dan tentu saja ada contoh dari tokoh-tokoh dunia yang jago berpidato. Salah satunya Soekarno. Karena ada beliau yang saya kagumi, tentu saja saya makin ingin jadi jago pidato. Tapi ada kelemahan yang saya tidak sadari. Pidato itu lisan, sementara buku adalah tulisan. Maka, membaca saja tanpa praktek dan mendengarkan contoh itu tidak berarti. Pendeknya, meski buku itu membantu meningkatkan rasa pe-de saya, tetap saja dalam lomba saya kalah. Hehe. Ini hidup, bukan sinetron. Jadi, biarpun saya jagoannya, tetap saja saya kalah.

Saya baru bisa mendapatkan kaset yang berisi rekaman pidato Bung Karno sewaktu kelas 1 SMP. Asal Anda tahu, hingga era 1980-an, Orde Baru masih begitu alergi terhadap Soekarno dan segala sesuatu tentangnya. Jadi, cukup sulit mendapatkan kaset rekaman pidatonya. Walau tidak langsung, dengan mendengarkan rekaman pidato Bung Karno di berbagai kesempatan, kemampuan saya bicara di muka umum meningkat. Itu berefek pada dipercayanya saya menjadi ketua organisasi ekstra-kurikuler. Kalau Anda membaca riwayat hidup saya, akan tahu bahwa saya mulai aktif berorganisasi ekstra-kurikuler ya di SMP ini. Jadi, si Bung membantu saya untuk mengatasi rasa minder bicara di depan umum.

Soekarno juga memberikan saya pelajaran, kalau masyarakat kita sesungguhnya tidak menyukai poligami. Dalam hal beragama, Soekarno sendiri mengakui kalau dirinya tidaklah setaat itu. Jangankan poligami, wong shalat saja bolong-bolong kok. Di saat akhir kekuasaannya, para penentangnya juga memakai isyu ini sebagai alat untuk menjatuhkannya. Ia diibaratkan raja yang gemar gaya hidup ala istana dengan haremnya.

Namun teladan yang saya pelajari benar-benar justru caranya memerintah negara. Meski terkesan keras apalagi senang mengenakan seragam militer, Soekarno sesungguhnya rapuh hati. Ia tidak tegaan terhadap lawan politiknya. Anda mungkin membantah karena ia pernah memenjarakan sejumlah tokoh dan membubarkan partai politik. Tapi ingatlah, saat ia melakukan itu, ia adalah diktator dalam periode Orde Lama (1959-1967). Di negara lain, diktator tidak sekedar memenjarakan lawan politiknya, tapi menghukum mati!

Sikap lemah hati ini paling tampak saat masa krisis 1966, dimana ia justru menolak membubarkan PKI. Suatu sikap yang justru jadi bumerang baginya. Ia juga menolak melawan Soeharto yang saat itu jelas-jelas sudah tampak itikadnya untuk merebut kekuasaan. Sementara, para pendukungnya sudah gemas menunggu komando dari pimpinan tertingginya. Tapi komando itu tak kunjung datang. Padahal, secara militer kekuatan pendukung Soeharto lebih kecil dari pendukung Soekarno. Hanya keraguan Soekarno yang membuat Soeharto bisa bergerak lebih cepat dan melumpuhkan lawannya yang lebih besar.

Ia juga kurang memahami persoalan ekonomi dan agak malas belajar hal baru. Antisipasinya terhadap keadaan yang berubah juga kurang. Semenjak naik sebagai Presiden dari negara baru yang dimerdekakannya, ia tidak sadar bahwa tuntutan rakyat berubah. Rakyat butuh makan, bukan revolusi yang tak kunjung selesai. Toh sikap konfrontatif ini sangat berguna dalam menghadapi musuh dari pihak luar. Misalnya ia berani bersikap keras terhadap negara lain yang dianggapnya merongrong Indonesia. Tercatat dua kali ia memerintahkan operasi militer besar melawan kekuatan asing: Trikora untuk merebut Irian Barat dan Dwikora untuk menggagalkan pembentukan Federasi Malaysia oleh Inggris. Yang pertama relatif berhasil, yang kedua digagalkan oleh pengkhianatan sejumlah personel dalam tubuh TNI yang condong pada Soeharto. Sikap ini yang kurang dimiliki pemimpin saat ini. Menghadapi negara tetangga kita yang berkali-kali menghina kedaulatan dan kehormatan bangsa saja pendekatannya sangatlah diplomatis dan terkesan lembek.

Sikap yang bertentangan ini diklaim olehnya sendiri karena ia berbintang Gemini. Katanya, itu wujud kekembaran. Makanya sikap dan sifatnya bisa bertolak belakang. Tapi bagi praktisi psikologi, itu sebenarnya adalah wujud dari karakter bipolar. Dan itu memang sulit dipahami. Menurut pengamatan saya, hampir semua pemimpin besar dunia dan orang suci utusan Tuhan itu bipolar sempurna (maaf bila tak sependapat). Saya sendiri juga bipolar. Ini adalah kelainan psikologis yang membuat orang bisa bertindak pada kutub-kutubnya. Ia bisa amat lembut berbuat kebaikan, tapi juga bisa tega dan keras saat menghukum kesalahan. Ini masalah kejiwaan, yang bila dioptimalkan akan sangat berguna. Tapi bila gagal, ya bisa konflik sendiri di dalam batinnya dan bukan tidak mungkin berakhir di rumah sakit jiwa.

Jadi, meski saya bisa dikategorikan pengagum Soekarno, tapi saya bukanlah pengikut beliau seperti ayah saya. Karena saya melihat beliau dari berbagai sisi. Dan di situlah saya melihat sisi-sisi yang tidak perlu diteladani. Karena kalau pengikut, sudah pasti prinsipnya “pejah gesang nderek Bung Karno”. Saya? Ya nggak lah… masak ya nggak dong! It’s my life getoo lhoh! Ngapain juga mati hidup ikut orang lain? Ya nggak?

(Bhayu M.H.)

April 01st, 2009 | Author: bhayu

Saya adalah anak yang terlahir di lingkungan marhaenis dan pengikut –bukan cuma pengagum- Soekarno. Sejak kecil, saya mengagumi Presiden Pertama Indonesia ini. Walau seiring berjalannya waktu yang mendewasakan, saya makin realistis terhadap beliau. Salah satu bentuk kekaguman saya kepadanya saya wujudkan dengan mengoleksi apa pun yang ‘berbau’ dirinya. Selain buku-buku lawas yang saya ‘warisi’ dari bapak saya, saya sendiri juga kerap membeli buku-buku terbitan baru tentang dirinya. Selain itu, dinding kamar saya dipenuhi pula dengan poster foto dan gambarnya. Tentu saya juga punya kaset pidatonya dan asesoris lain seperti baju atau sticker bergambar fotonya.

Jadi, kalau anak lain mengagumi selebritis dunia hiburan, saya malah tergila-gila pada negarawan seperti dirinya. Mungkin aneh, tapi memang begitulah kenyataan hidup saya. Dan saya tidak malu dengan keanehan itu.

Salah satu benda koleksi yang paling saya ingat proses pembeliannya adalah sebuah patung dada Bung Karno dari kuningan. Patung itu saya beli sekitar tahun 1986 di areal pemakaman beliau di Blitar. Bagi yang pernah ‘nyekar’ ke sana, pasti tahu kalau di sana banyak toko-toko yang menjual aneka souvenir.

Saya ingat patung itu justru karena ketidakjujuran saya. Waktu itu, dalam kondisi toko yang remang-remang, saya melakukan pembelian setelah menawar. Saya masih ingat harga patung itu Rp 4.000,-. Dan saya membayar dengan uang Rp 5.000,-. Tapi karena gelap, ternyata saya mendapat kembalian Rp 6.000,-. Rupanya karena si penjual mengira uang saya Rp 10.000,-. Waktu itu, pecahan uang kertas kita terbesar memang Rp 10.000,- bergambar Ibu Kartini.

Dan meski saya tahu uang kembalian itu berlebih karena kesalahan si penjual, saya diam saja. Uang itu saya terima dan patungnya saya bawa. Artinya, saya dapat patung itu secara gratis, malah ditambahi Rp 1.000,-.

Kejadian kecil itu semacam itu mungkin mudah dilupakan bagi orang lain, tapi tidak bagi saya. Hingga kini, saya masih menyesali ketidakjujuran saya. Kejadian saat saya kelas 4 SD itu masih menghantui saya. Saya hanya bisa berdo’a, semoga si penjual mendapatkan rezeki berlebih dari ALLAH karena kezaliman saya. Karena jelas saya sudah tidak ingat yang mana toko penjualnya di antara puluhan toko yang ada di sana. Jadi, niat mengembalikan kelebihan uang itu jelas sudah sangat kecil kemungkinannya.

Dari momentum itu, saya menjadi malu. Ternyata, saya orang yang mudah sekali mengambil kesempatan dalam kesempitan, atau menari di atas penderitaan orang lain. Dan semenjak itu, saya berusaha terus memperbaiki diri dengan berupaya jujur saat bertransaksi. Baik sebagai penjual maupun pembeli. Sehingga, semoga saja Tuhan membukakan jalan kebaikan bagi kita dengan upaya sederhana untuk berlaku jujur dalam kehidupan kita.

(Bhayu M.H.)